BANDUNG, POSKOTA.CO.ID - Pagi belum sepenuhnya terang ketika Dadang Kusmawan, 56 tahun, mulai menyusuri hamparan kebun sayur di Kampung Cikarang Mulya, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Embun yang biasanya menjadi penanda suburnya tanah pegunungan kini mulai sulit ditemukan. Musim kemarau membuat udara terasa lebih kering, aliran air yang selama ini menjadi urat nadi pertanian perlahan menyusut.
Di kawasan yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil sayuran segar untuk Bandung Raya hingga Jakarta itu, kemarau tahun ini bukan sekadar soal cuaca. Ia berubah menjadi ujian berat yang menguras tenaga, biaya, bahkan harapan para petani.
Cisarua selama puluhan tahun hidup dari kesuburan lereng pegunungan. Selada, tomat, brokoli, buncis hingga aneka sayuran hijau tumbuh subur di tanah yang berhawa sejuk.
Baca Juga: Kementan Sebut Riset Varietas Tembakau Rendah Nikotin Butuh 30 Tahun, Soroti Nasib Petani
Setiap dini hari, hasil panen dari desa-desa seperti Pasirhalang berangkat menuju pasar-pasar besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun di balik sayuran segar yang tersaji di meja makan, ada kisah yang jarang diketahui. Kisah tentang petani yang justru semakin terhimpit ketika musim kemarau datang.
Dadang mengaku, hampir seluruh harga komoditas hortikultura terjun bebas dalam beberapa pekan terakhir, selada sebelumnya masih bisa dijual Rp5.000-6.000 per kg, kini hanya dihargai sekitar Rp2.000 per kg di tingkat petani. Harga tersebut bahkan tak cukup untuk menutup biaya produksi yang terus membengkak.
"Kami yang susah mencari air, kami juga yang harus menjual murah. Tapi di pasar, harganya tetap tinggi," kata Dadang kepada Poskota, Rabu, 5 Agustus 2026.
Baca Juga: Petani Tembakau Mengadu ke Komisi IV DPR, Minta Pemerintah Kaji Ulang Aturan Batas Nikotin dan Tar
Ucapan itu menggambarkan ironi yang terus menghantui petani. Saat mereka harus berjuang mempertahankan tanaman tetap hidup, keuntungan justru dinikmati di rantai distribusi yang lebih panjang.
Kemarau memaksa Dadang melakukan sesuatu yang dulu hampir tak pernah terpikirkan, membeli air agar tanaman tidak mati. Satu kibik air dari perusahaan air minum dihargai sekitar Rp7.000. Dalam sehari, sedikitnya lima kibik dibutuhkan untuk sekali penyiraman.
"Ya kalau idealnya tanaman disiram dua kali sehari tetapi, karena biaya semakin berat maka, penyiraman sering kali hanya dilakukan sekali," ujarnya.
Bahkan, dengan kondisi seperti ini (kemarau), kata dia, konsekuensinya tidak ringan. Tanaman tumbuh kurang maksimal, kualitas menurun, dan hasil panen semakin sedikit.
Sementara itu di kebun lain yang tak jauh dari sana, Suhendra, 68 tahun, merasakan kegelisahan yang sama. Puluhan tahun menjadi petani membuatnya hafal siklus musim. Dahulu, kemarau memang mengurangi produksi, tetapi harga sayuran biasanya ikut naik sehingga kerugian masih bisa tertutupi.
Selada yang pernah menyentuh Rp20.000 per kg kini hanya laku Rp2.000 kg. Tomat yang dulu dihargai sekitar Rp10.000 per kg juga turun ke angka yang sama.
Baca Juga: Pengamat Sebut Petani Lokal Harus jadi Pilar Ketahanan Pangan Nasional
"Padahal, biaya menanamnya justru semakin mahal. Sekarang satu kibik air Rp10.000. Sehari habis lima kibik. Belum pupuk, belum tenaga kerja," ucapnya.
Tak berhenti sampai di situ, panas berkepanjangan membuat banyak tomat rusak sebelum sempat dipanen. Hampir separuh buah harus dibuang karena membusuk dan tidak layak dijual.
Kerugian yang mereka alami datang dari dua arah sekaligus, mulai harga berkurang tajam dan hasil panen ikut merosot. Di balik panorama hijau Cisarua yang memanjakan mata wisatawan, tersimpan perjuangan panjang para petani menjaga pasokan pangan.
Kawasan ini bukan hanya menawarkan udara sejuk dan pemandangan pegunungan, tetapi juga menjadi satu di antara lumbung hortikultura penting di Bandung Barat.
Baca Juga: Petani Khawatir Penyeragaman Kemasan Hambat Pengembangan Komoditas Tembakau di Jawa Barat
Setiap lembar selada dan setiap buah tomat yang sampai ke meja makan masyarakat sesungguhnya lahir dari kerja keras yang dimulai sejak fajar menyingsing hingga matahari tenggelam.
Ironisnya, ketika konsumen masih membeli sayuran dengan harga yang relatif tinggi di pasar, petani justru memperoleh bagian paling kecil dari rantai perdagangan tersebut.
Bagi para petani di Pasirhalang, persoalan hari ini bukan sekadar kemarau. Mereka berharap ada perhatian lebih terhadap tata niaga hasil pertanian, ketersediaan air, hingga perlindungan harga agar petani tidak terus menjadi pihak yang paling dirugikan.
"Kalau kondisi ini terus berulang, bukan tidak mungkin semakin banyak petani memilih meninggalkan lahannya," ucapnya.
Ketika itu terjadi, yang hilang bukan hanya mata pencaharian mereka, tetapi juga salah satu denyut kehidupan Cisarua sebagai kawasan pertanian yang selama ini ikut menghidupi jutaan orang melalui hasil bumi dari lereng-lereng Bandung Barat.
