Perusahaan Semakin Andalkan AI, Karyawan Dituntut Kuasai Keterampilan Baru

Jumat 31 Jul 2026, 19:20 WIB
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). (Freepik/iuriimotov)
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). (Freepik/iuriimotov)

POSKOTA.CO.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus memicu kekhawatiran mengenai masa depan pekerjaan, khususnya bagi tenaga kerja pemula.

Namun, hasil riset terbaru menunjukkan AI diperkirakan tidak hanya menggantikan pekerjaan, tetapi juga membuka peluang profesi baru dalam beberapa tahun mendatang.

Studi bertajuk The AI Workforce Pulse yang dirilis Cognizant bersama Pearson menemukan mayoritas perusahaan percaya AI akan mengubah karakter pekerjaan dibanding menghilangkan lapangan kerja.

Peran pekerja entry-level diproyeksikan beralih dari tugas administratif dan berulang menuju fungsi yang lebih strategis, seperti mengawasi serta berkolaborasi dengan sistem AI.

Baca Juga: 3 HP Infinix Baterai Jumbo Terbaik 2026, Awet Seharian Mulai Rp1 Jutaan

Mayoritas Perusahaan Optimistis AI Menciptakan Pekerjaan Baru

Survei yang melibatkan 750 pimpinan sumber daya manusia (HR) di Amerika Serikat, Inggris, dan India menunjukkan sebanyak 94 persen responden memperkirakan AI akan melahirkan jenis pekerjaan entry-level baru dalam lima tahun ke depan.

Selain itu, 96 persen responden menilai posisi pekerja level pemula akan mengalami perubahan signifikan.

Tugas-tugas rutin yang selama ini mendominasi diprediksi semakin banyak diotomatisasi, sementara pekerja akan lebih berfokus pada pengawasan, pengelolaan, hingga kolaborasi dengan teknologi AI.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi AI lebih banyak mengubah cara bekerja dibanding menghilangkan kebutuhan terhadap tenaga kerja.

Baca Juga: Cara Mengajukan Refund Apple Service, Ketahui Langkah, Syarat, dan Waktu Prosesnya

Kebutuhan Keterampilan Berubah Seiring Adopsi AI

Chief People Officer Cognizant, Kathy Diaz, mengatakan perkembangan AI mendorong perubahan besar terhadap kompetensi yang dibutuhkan perusahaan, terutama pada posisi entry-level.

Menurutnya, organisasi perlu segera menyesuaikan strategi perekrutan dan pengembangan talenta agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri yang berlangsung sangat cepat.

Dia menilai perusahaan tidak lagi cukup hanya mencari kandidat dengan kemampuan teknis, tetapi juga individu yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi AI.

Pelatihan AI Masih Tertinggal dari Laju Perkembangan Teknologi

Meskipun perusahaan optimistis terhadap peluang yang dibawa AI, kesiapan organisasi dinilai masih belum memadai.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Hp Anak Sekolah Harga Terjangkau, Mulai Rp1 Jutaan Aja

Sebanyak 91 persen responden melaporkan permintaan pelatihan AI dari karyawan meningkat selama satu tahun terakhir. Namun, baru 54 persen organisasi yang telah menjalankan program peningkatan keterampilan (upskilling) AI secara proaktif.

Sementara itu, 46 persen perusahaan lainnya belum memiliki langkah nyata untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan tersebut.

Tak hanya itu, sekitar 60 persen responden juga menilai program learning and development (L&D) di perusahaan masih belum mampu mengejar cepatnya perubahan kebutuhan pekerjaan akibat perkembangan AI.

Soft Skill Semakin Bernilai di Era AI

Riset juga mengungkap adanya perubahan dalam proses rekrutmen tenaga kerja baru.

Sebanyak 69 persen profesional HR menyebut perusahaan kini lebih membutuhkan kandidat yang memiliki latar belakang lintas disiplin dibanding mereka yang hanya menguasai satu bidang tertentu.

Kemampuan nonteknis juga semakin dihargai. Sebanyak 67 persen responden mengaku lebih mengapresiasi lulusan liberal arts dibanding sebelumnya.

Sementara itu, hampir seluruh responden atau 97 persen menilai kemampuan seperti adaptasi, komunikasi, pemecahan masalah, hingga human judgment menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki tenaga kerja di era AI.

Perusahaan Masih Kesulitan Mencari Talenta yang Tepat

Meski kebutuhan terhadap talenta baru terus meningkat, perusahaan mengaku masih menghadapi tantangan dalam proses perekrutan.

Sebanyak 64 persen responden menyatakan kesulitan menemukan kandidat yang sesuai karena perkembangan AI mengubah kebutuhan keterampilan lebih cepat dibanding kemampuan pasar tenaga kerja dalam menyesuaikan diri.

Temuan ini memperkuat laporan Cognizant sebelumnya bertajuk New Work, New World 2026, yang menyebut sekitar 93 persen pekerjaan telah terdampak oleh perkembangan AI.

Sebagai bagian dari strategi menghadapi transformasi tersebut, Cognizant tetap meningkatkan perekrutan talenta muda dengan merekrut sekitar 20.000 lulusan baru sepanjang 2025 dan menargetkan jumlah yang lebih besar pada 2026 untuk mendukung kebutuhan tenaga kerja di era kecerdasan buatan.


Berita Terkait


News Update