Menurutnya, organisasi perlu segera menyesuaikan strategi perekrutan dan pengembangan talenta agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri yang berlangsung sangat cepat.
Dia menilai perusahaan tidak lagi cukup hanya mencari kandidat dengan kemampuan teknis, tetapi juga individu yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi AI.
Pelatihan AI Masih Tertinggal dari Laju Perkembangan Teknologi
Meskipun perusahaan optimistis terhadap peluang yang dibawa AI, kesiapan organisasi dinilai masih belum memadai.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Hp Anak Sekolah Harga Terjangkau, Mulai Rp1 Jutaan Aja
Sebanyak 91 persen responden melaporkan permintaan pelatihan AI dari karyawan meningkat selama satu tahun terakhir. Namun, baru 54 persen organisasi yang telah menjalankan program peningkatan keterampilan (upskilling) AI secara proaktif.
Sementara itu, 46 persen perusahaan lainnya belum memiliki langkah nyata untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan tersebut.
Tak hanya itu, sekitar 60 persen responden juga menilai program learning and development (L&D) di perusahaan masih belum mampu mengejar cepatnya perubahan kebutuhan pekerjaan akibat perkembangan AI.
Soft Skill Semakin Bernilai di Era AI
Riset juga mengungkap adanya perubahan dalam proses rekrutmen tenaga kerja baru.
Sebanyak 69 persen profesional HR menyebut perusahaan kini lebih membutuhkan kandidat yang memiliki latar belakang lintas disiplin dibanding mereka yang hanya menguasai satu bidang tertentu.
Kemampuan nonteknis juga semakin dihargai. Sebanyak 67 persen responden mengaku lebih mengapresiasi lulusan liberal arts dibanding sebelumnya.
Sementara itu, hampir seluruh responden atau 97 persen menilai kemampuan seperti adaptasi, komunikasi, pemecahan masalah, hingga human judgment menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki tenaga kerja di era AI.
Perusahaan Masih Kesulitan Mencari Talenta yang Tepat
Meski kebutuhan terhadap talenta baru terus meningkat, perusahaan mengaku masih menghadapi tantangan dalam proses perekrutan.
