POSKOTA.CO.ID - Ketidakpastian kembali menjadi wajah perdagangan internasional pada tahun 2026. Ketegangan geopolitik, kebijakan tarif di berbagai negara, perlambatan ekonomi global, hingga disrupsi rantai pasok membuat aktivitas ekspor semakin menantang.
Dalam situasi seperti ini, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Yang dibutuhkan adalah strategi baru, yaitu meningkatkan nilai tambah produk, memperluas pasar ekspor, dan memperkuat daya saing nasional.
Di satu sisi, Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia tetap mencatat surplus pada awal 2026. Kinerja ekspor nonmigas masih menjadi penopang utama, terutama dari sektor industri pengolahan seperti besi dan baja, nikel, produk kelapa sawit (CPO), alas kaki, serta berbagai produk manufaktur lainnya.
Nilai ekspor kumulatif Januari–Februari 2026 juga meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Astra Daihatsu Motor Perpanjang Sertifikasi AEO 2026, Perkuat Keamanan Logistik Ekspor-Impor
Namun, optimisme tersebut tidak boleh membuat kita lengah. Dalam beberapa bulan terakhir, nilai ekspor Indonesia mengalami fluktuasi yang cukup tajam akibat melemahnya permintaan global dan meningkatnya tekanan perdagangan internasional.
Pemerintah pun mengakui bahwa perkembangan ekonomi dunia masih dibayangi oleh ketegangan perdagangan, perlambatan ekonomi negara mitra dagang, serta perubahan kebijakan tarif di sejumlah negara.
Kondisi ini memberikan pelajaran penting bahwa ketergantungan pada ekspor komoditas mentah tidak lagi menjadi strategi yang berkelanjutan. Harga komoditas dunia sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan permintaan global. Ketika harga turun, penerimaan ekspor Indonesia ikut tertekan.
Oleh karena itu, hilirisasi industri harus terus menjadi prioritas. Indonesia sebenarnya telah menunjukkan langkah positif melalui pengembangan industri pengolahan nikel, bauksit, hingga berbagai produk turunan mineral lainnya.
Baca Juga: Chery Catat Rekor Ekspor, Penjualan di Indonesia Stabil
Kebijakan hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga membuka lapangan kerja, mendorong investasi, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Produk dengan nilai tambah tinggi akan jauh lebih tahan terhadap gejolak harga dibandingkan ekspor bahan mentah.
Selain hilirisasi, diversifikasi pasar ekspor juga menjadi kebutuhan yang mendesak. Selama ini, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia. Ketiga negara tersebut menyumbang hampir separuh ekspor nonmigas Indonesia.
Ketika salah satu negara mengalami perlambatan ekonomi atau menerapkan kebijakan perdagangan yang lebih protektif, dampaknya langsung dirasakan oleh eksportir nasional.
Karena itu, pembukaan pasar baru ke kawasan Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Amerika Latin harus terus dipercepat melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional. Tidak kalah penting adalah meningkatkan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Baca Juga: Ekspor Motor Indonesia 2025 Turun, CBU Anjlok Hampir 5 Persen
Saat ini, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih relatif kecil dibandingkan potensinya.
Padahal, Indonesia memiliki ribuan produk unggulan seperti makanan olahan, kopi, rempah-rempah, furnitur, fashion muslim, kerajinan tangan, hingga produk ekonomi kreatif yang memiliki peluang besar di pasar internasional. Perkembangan teknologi digital sebenarnya telah menghapus banyak hambatan ekspor.
Marketplace global, platform business matching, media sosial, hingga layanan logistik digital memungkinkan pelaku UMKM menjangkau pembeli dari berbagai negara tanpa harus membuka kantor perwakilan di luar negeri.
Tantangannya kini bukan lagi akses pasar, melainkan kemampuan memenuhi standar kualitas internasional, sertifikasi produk, pengemasan yang kompetitif, serta konsistensi produksi.
Baca Juga: Kasus Ekspor CPO Rugikan Negara Puluhan Triliun, Kejagung Tahan 11 Tersangka
Di era ekonomi digital, reputasi produk menjadi aset yang tidak kalah penting dibandingkan harga. Konsumen global semakin memperhatikan aspek keberlanjutan (sustainability), jejak karbon, praktik bisnis yang bertanggung jawab, hingga keterlacakan rantai pasok.
Negara-negara maju bahkan mulai menerapkan berbagai standar lingkungan yang lebih ketat terhadap produk impor. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan kualitas produknya agar mampu bersaing di pasar global.
Peran pemerintah tentu tetap menjadi faktor penentu. Penyederhanaan birokrasi ekspor, efisiensi pelabuhan, penurunan biaya logistik, perluasan pembiayaan ekspor, hingga diplomasi perdagangan harus terus diperkuat.
Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, kebijakan yang cepat dan adaptif menjadi kunci agar pelaku usaha tetap mampu bersaing.
Namun demikian, membangun kekuatan ekspor bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, asosiasi bisnis, hingga masyarakat perlu berkolaborasi menciptakan ekosistem ekspor yang lebih inklusif.
Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset dan inovasi, sementara pelaku usaha dituntut terus meningkatkan kualitas produk dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan pasar.
Ke depan, persaingan perdagangan internasional tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya alam paling melimpah, tetapi oleh siapa yang paling inovatif, paling produktif, dan paling cepat beradaptasi terhadap perubahan global.
Indonesia memiliki semua modal tersebut, sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, pasar domestik yang besar, serta posisi strategis di kawasan Asia Pasifik.
Tantangan terbesar bukanlah kurangnya potensi, melainkan bagaimana mengelola potensi tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu menembus pasar dunia. Momentum ini tidak boleh disia-siakan.
Di tengah tekanan perdagangan global, Indonesia justru memiliki kesempatan untuk naik kelas. Bukan lagi dikenal sebagai pengekspor bahan mentah, tetapi sebagai negara yang menghasilkan produk inovatif, berkualitas, dan berdaya saing tinggi.
Ketika ekspor tumbuh secara berkelanjutan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh jutaan tenaga kerja, perekonomian nasional, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Opini ini ditulis oleh Siti Khodijah Nurfizri, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor.
