Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, kebijakan yang cepat dan adaptif menjadi kunci agar pelaku usaha tetap mampu bersaing.
Namun demikian, membangun kekuatan ekspor bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, asosiasi bisnis, hingga masyarakat perlu berkolaborasi menciptakan ekosistem ekspor yang lebih inklusif.
Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset dan inovasi, sementara pelaku usaha dituntut terus meningkatkan kualitas produk dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan pasar.
Ke depan, persaingan perdagangan internasional tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya alam paling melimpah, tetapi oleh siapa yang paling inovatif, paling produktif, dan paling cepat beradaptasi terhadap perubahan global.
Indonesia memiliki semua modal tersebut, sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, pasar domestik yang besar, serta posisi strategis di kawasan Asia Pasifik.
Tantangan terbesar bukanlah kurangnya potensi, melainkan bagaimana mengelola potensi tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu menembus pasar dunia. Momentum ini tidak boleh disia-siakan.
Di tengah tekanan perdagangan global, Indonesia justru memiliki kesempatan untuk naik kelas. Bukan lagi dikenal sebagai pengekspor bahan mentah, tetapi sebagai negara yang menghasilkan produk inovatif, berkualitas, dan berdaya saing tinggi.
Ketika ekspor tumbuh secara berkelanjutan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh jutaan tenaga kerja, perekonomian nasional, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Opini ini ditulis oleh Siti Khodijah Nurfizri, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor.
