Di Tengah Ketidakpastian Global, Ekspor Indonesia Harus Naik Kelas

Senin 27 Jul 2026, 21:22 WIB
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Siti Khodijah Nurfizri. (Sumber: Istimewa)
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Siti Khodijah Nurfizri. (Sumber: Istimewa)

POSKOTA.CO.ID - Ketidakpastian kembali menjadi wajah perdagangan internasional pada tahun 2026. Ketegangan geopolitik, kebijakan tarif di berbagai negara, perlambatan ekonomi global, hingga disrupsi rantai pasok membuat aktivitas ekspor semakin menantang. 

Dalam situasi seperti ini, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Yang dibutuhkan adalah strategi baru, yaitu meningkatkan nilai tambah produk, memperluas pasar ekspor, dan memperkuat daya saing nasional.

Di satu sisi, Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia tetap mencatat surplus pada awal 2026. Kinerja ekspor nonmigas masih menjadi penopang utama, terutama dari sektor industri pengolahan seperti besi dan baja, nikel, produk kelapa sawit (CPO), alas kaki, serta berbagai produk manufaktur lainnya.

Nilai ekspor kumulatif Januari–Februari 2026 juga meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Astra Daihatsu Motor Perpanjang Sertifikasi AEO 2026, Perkuat Keamanan Logistik Ekspor-Impor

Namun, optimisme tersebut tidak boleh membuat kita lengah. Dalam beberapa bulan terakhir, nilai ekspor Indonesia mengalami fluktuasi yang cukup tajam akibat melemahnya permintaan global dan meningkatnya tekanan perdagangan internasional.

Pemerintah pun mengakui bahwa perkembangan ekonomi dunia masih dibayangi oleh ketegangan perdagangan, perlambatan ekonomi negara mitra dagang, serta perubahan kebijakan tarif di sejumlah negara. 

Kondisi ini memberikan pelajaran penting bahwa ketergantungan pada ekspor komoditas mentah tidak lagi menjadi strategi yang berkelanjutan. Harga komoditas dunia sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan permintaan global. Ketika harga turun, penerimaan ekspor Indonesia ikut tertekan. 

Oleh karena itu, hilirisasi industri harus terus menjadi prioritas. Indonesia sebenarnya telah menunjukkan langkah positif melalui pengembangan industri pengolahan nikel, bauksit, hingga berbagai produk turunan mineral lainnya. 

Baca Juga: Chery Catat Rekor Ekspor, Penjualan di Indonesia Stabil

Kebijakan hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga membuka lapangan kerja, mendorong investasi, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Produk dengan nilai tambah tinggi akan jauh lebih tahan terhadap gejolak harga dibandingkan ekspor bahan mentah.


Berita Terkait


News Update