Tak Mau Tergiur Janji Cuan Instan, Nasabah HSB Investasi Utamakan Edukasi dan Legalitas

Sabtu 25 Jul 2026, 08:59 WIB
Potret nasabah HSB Investasi yang menuturkan mengedepankan legalitas dan edukasi dibanding pilih cuan instan. (Sumber: Istimewa)
Potret nasabah HSB Investasi yang menuturkan mengedepankan legalitas dan edukasi dibanding pilih cuan instan. (Sumber: Istimewa)

POSKOTA.CO.ID - Bagi sebagian trader, keuntungan besar dalam waktu singkat kerap menjadi daya tarik utama. Namun, berbeda dengan anggapan tersebut, seorang nasabah HSB Investasi bernama Tasroni justru memilih mengedepankan edukasi, manajemen risiko, serta aspek legalitas sebelum memutuskan berinvestasi di pasar berjangka.

Tasroni, yang telah menjadi nasabah HSB Investasi sejak 2018 ketika perusahaan masih bernama Hanson Forex, mengaku hingga kini masih terus mempelajari dinamika pasar.

Menurutnya, trading bukanlah cara instan untuk memperoleh keuntungan, melainkan aktivitas investasi yang membutuhkan pemahaman, disiplin, dan pengelolaan risiko.

"Trading itu buat saya masih proses belajar terus," ujar Tasroni.

Baca Juga: Bagaimana Spread Rendah Membantu Trader Indonesia Berdagang Lebih Efisien

Legalitas jadi Pertimbangan Utama sebelum Trading

Sebelum menggunakan aplikasi trading, Tasroni mengaku terlebih dahulu memastikan legalitas perusahaan. Ia menilai langkah tersebut penting untuk menghindari risiko menjadi korban platform investasi yang tidak memiliki izin resmi.

Menurutnya, ia mencari informasi mengenai status perusahaan, izin dari BAPPEBTI, hingga keberadaan kantor operasional sebelum memutuskan menjadi nasabah.

"Dari awal saya tanya soal BAPPEBTI, legalitas perusahaan, kantornya ada atau nggak. Karena kalau urusan uang, saya harus yakin dulu," katanya.

Pengalaman kurang menyenangkan saat menggunakan platform investasi lain yang tidak memiliki kejelasan legalitas membuatnya kini lebih berhati-hati.

Baca Juga: Pasar Kripto RI Makin Ramai, Inilah 5 Exchange Teratas yang Dipercaya Trader

Ia menilai keberadaan logo regulator saja belum cukup menjadi jaminan keamanan karena dapat disalahgunakan. Oleh sebab itu, keberadaan perusahaan secara fisik dan transparansi operasional menjadi faktor yang turut dipertimbangkan.


Berita Terkait


News Update