KH Zulfa Mustofa Disebut Figur Perubahan NU, Dukungan Jelang Muktamar Terus Bermunculan

Sabtu 11 Jul 2026, 08:29 WIB
KH Zulfa Mustofa menyampaikan pandangannya terkait bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU usai peluncuran kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa di Jakarta. (Sumber: Istimewa)
KH Zulfa Mustofa menyampaikan pandangannya terkait bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU usai peluncuran kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa di Jakarta. (Sumber: Istimewa)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa akhirnya angkat bicara terkait namanya yang mulai disebut-sebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama.

KH Zulfa menyatakan dirinya tidak akan menolak apabila pencalonan tersebut merupakan aspirasi dari jajaran pengurus NU di tingkat wilayah maupun cabang.

“Kalau itu permintaan dari pengurus cabang dan wilayah, saya tidak bisa menolak,” ujar KH Zulfa saat ditemui usai acara peluncuran dan bedah kitab karyanya, Ithafu Ummati Al Muqtafa, di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat malam (10/7).

Menurut KH Zulfa, proses pemilihan Ketua Umum PBNU harus dipahami sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga kehormatan organisasi, memperkuat persatuan, serta memastikan keberlanjutan peran NU di tengah masyarakat.

Baca Juga: Jadwal One Way Puncak Bogor Hari Ini 11 Juli 2026 Mulai Jam Berapa? Simak Rekayasa Lalu Lintas

Ia menilai kepemimpinan di tubuh NU bukan sekadar persoalan posisi struktural, melainkan amanah besar dalam menjaga tradisi keilmuan, membimbing umat, serta menghadirkan nilai-nilai Islam yang moderat dalam kehidupan berbangsa.

“NU harus terus menjadi rumah besar bagi umat, tempat tumbuhnya tradisi ilmu, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin mengungkapkan, dukungan agar KH Zulfa maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU terus bermunculan dari berbagai pengurus wilayah dan cabang.

“Beliau menjadi ikon perubahan dalam NU,” ujar KH Abdullah.

Menurutnya, sosok KH Zulfa memiliki pengalaman organisasi, latar belakang pesantren, serta perhatian besar terhadap pengembangan tradisi intelektual ulama yang menjadi salah satu kekuatan utama Nahdlatul Ulama.

Baca Juga: iQoo Siapkan Penerus Z10 Lite dengan Sejumlah Peningkatan Penting

Dorong Kebangkitan Tradisi Menulis Ulama

Pernyataan mengenai dinamika kepemimpinan NU tersebut disampaikan setelah KH Zulfa meluncurkan kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa. Karya tersebut berisi empat kitab yang membahas berbagai persoalan fikih, ushul fikih, metodologi fatwa, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.

KH Zulfa mengatakan, karya tersebut merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali tradisi menulis di kalangan ulama dan generasi muda pesantren.

“Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan sebuah karya yang saya beri nama Ithafu Ummati Al Muqtafa. Jika diterjemahkan secara bebas, ini adalah hadiah bagi umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” tuturnya.

Ia menjelaskan, empat kitab dalam karya tersebut tidak hanya membahas persoalan klasik, tetapi juga mencoba menjawab tantangan masyarakat modern.

Salah satu pembahasan menyoroti metodologi Bahtsul Masail dalam menghadapi berbagai persoalan baru, seperti transaksi digital, perkembangan teknologi, hingga perubahan sosial yang membutuhkan pendekatan hukum Islam secara kontekstual.

Kitab pertama, Dawabit Bahts al-Masail wa al-Ifta inda Nahdat al-Ulama, membahas prinsip pengambilan keputusan hukum dalam tradisi NU. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa proses penetapan hukum tidak cukup hanya dengan mengutip teks, tetapi juga harus mempertimbangkan tujuan syariat, kondisi sosial, adat, serta dampak dari keputusan hukum yang dihasilkan.

Selain itu, kitab Diqqat al-Qannas fi Ushul al-Fiqh membahas dasar-dasar ushul fikih sebagai perangkat memahami persoalan baru. Sementara kitab Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi li al-Mutafaqqih Jahluhu mengulas tantangan dunia fatwa di era digital, termasuk maraknya pandangan keagamaan instan di media sosial.

KH Zulfa mengingatkan bahwa seorang pemberi fatwa tidak cukup hanya menguasai dalil, tetapi juga harus memahami kondisi masyarakat dan konsekuensi dari fatwa yang dikeluarkan.

“Orang yang literasinya banyak dan bacaannya luas akan menjadi orang yang moderat. Dia mampu menghargai perbedaan pendapat, berlaku toleran, dan berlaku adil,” ujarnya.

Sementara kitab keempat, Tuhfat al-Qasi wa al-Dani fi Tarjamah al-Imam al-Nawawi al-Bantani, mengangkat perjalanan hidup Syekh Nawawi al-Bantani, ulama Nusantara yang memiliki pengaruh besar dalam dunia Islam.

Figur Pesantren dengan Pengalaman Organisasi

KH Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan tradisi pesantren dan keilmuan Islam.

Putra KH Muqarrabin dan Nyai Hj Marhumah Latifah itu sejak kecil mendapatkan pendidikan agama dari lingkungan keluarga. Ayahnya merupakan santri Pesantren Tebuireng yang pernah belajar pada masa kepemimpinan KH Abdul Kholik Hasyim atau Gus Kholik.

Perjalanan keilmuan KH Zulfa kemudian berlanjut di lingkungan pesantren Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Di sana ia berguru kepada sejumlah ulama besar, termasuk KH MA Sahal Mahfudh dan KH Rifa’i Nasuha.

Pengalaman tersebut membentuk pemikirannya dalam bidang fikih, ushul fikih, serta tradisi Bahtsul Masail yang menjadi ciri khas pesantren NU.

Saat ini KH Zulfa mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum PBNU sekaligus Ketua Komite Fatwa Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal. Posisi tersebut membuatnya banyak terlibat dalam persoalan keagamaan, kebijakan publik, dan pelayanan umat.

Menjelang Muktamar Ke-35 NU, nama KH Zulfa Mustofa semakin ramai diperbincangkan sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki kapasitas untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Melalui karya dan gagasannya, KH Zulfa menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan tradisi pesantren, memperkuat keilmuan ulama, serta menjadikan NU sebagai kompas moral bagi bangsa.


News Update