Pernyataan mengenai dinamika kepemimpinan NU tersebut disampaikan setelah KH Zulfa meluncurkan kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa. Karya tersebut berisi empat kitab yang membahas berbagai persoalan fikih, ushul fikih, metodologi fatwa, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.
KH Zulfa mengatakan, karya tersebut merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali tradisi menulis di kalangan ulama dan generasi muda pesantren.
“Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan sebuah karya yang saya beri nama Ithafu Ummati Al Muqtafa. Jika diterjemahkan secara bebas, ini adalah hadiah bagi umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” tuturnya.
Ia menjelaskan, empat kitab dalam karya tersebut tidak hanya membahas persoalan klasik, tetapi juga mencoba menjawab tantangan masyarakat modern.
Salah satu pembahasan menyoroti metodologi Bahtsul Masail dalam menghadapi berbagai persoalan baru, seperti transaksi digital, perkembangan teknologi, hingga perubahan sosial yang membutuhkan pendekatan hukum Islam secara kontekstual.
Kitab pertama, Dawabit Bahts al-Masail wa al-Ifta inda Nahdat al-Ulama, membahas prinsip pengambilan keputusan hukum dalam tradisi NU. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa proses penetapan hukum tidak cukup hanya dengan mengutip teks, tetapi juga harus mempertimbangkan tujuan syariat, kondisi sosial, adat, serta dampak dari keputusan hukum yang dihasilkan.
Selain itu, kitab Diqqat al-Qannas fi Ushul al-Fiqh membahas dasar-dasar ushul fikih sebagai perangkat memahami persoalan baru. Sementara kitab Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi li al-Mutafaqqih Jahluhu mengulas tantangan dunia fatwa di era digital, termasuk maraknya pandangan keagamaan instan di media sosial.
KH Zulfa mengingatkan bahwa seorang pemberi fatwa tidak cukup hanya menguasai dalil, tetapi juga harus memahami kondisi masyarakat dan konsekuensi dari fatwa yang dikeluarkan.
“Orang yang literasinya banyak dan bacaannya luas akan menjadi orang yang moderat. Dia mampu menghargai perbedaan pendapat, berlaku toleran, dan berlaku adil,” ujarnya.
Sementara kitab keempat, Tuhfat al-Qasi wa al-Dani fi Tarjamah al-Imam al-Nawawi al-Bantani, mengangkat perjalanan hidup Syekh Nawawi al-Bantani, ulama Nusantara yang memiliki pengaruh besar dalam dunia Islam.
Figur Pesantren dengan Pengalaman Organisasi
KH Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan tradisi pesantren dan keilmuan Islam.
Putra KH Muqarrabin dan Nyai Hj Marhumah Latifah itu sejak kecil mendapatkan pendidikan agama dari lingkungan keluarga. Ayahnya merupakan santri Pesantren Tebuireng yang pernah belajar pada masa kepemimpinan KH Abdul Kholik Hasyim atau Gus Kholik.
