Kopi Pagi : Cepat dan Bijak

Kamis 25 Jun 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - Seseorang dapat dikatakan bijaksana, jika selalu bertindak berdasarkan akal sehat dan logika sehingga dapat bersikap tepat dalam menghadapi setiap keadaan. Tidak tergiur menilai orang lain meskipun tidak sesuai dengan pendapatnya. Lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi dalam mengambil keputusan.” - Harmoko -

Perbedaan adalah keniscayaan terlebih di negeri kita yang penuh keberagaman.

Sering disebut perbedaan itu sebuah berkah. Memperdebatkan perbedaan tak ubahnya menyalahi kodrati kita sendiri yang dilahirkan ke dunia sudah penuh dengan perbedaan. Yang perlu diperdebatkan, jika terdapat perbedaan dalam perlakuan.

Perbedaan perlakuan dalam mengakses segala sektor kehidupan yang berujung kepada kian melebarnya jurang kesenjangan sosial. Karenanya kita kian prihatin, jika perbedaan perlakukan itu dilakukan oleh para elite politik dan pejabat publik yang semestinya tampil terdepan meneladani perilaku berkeadilan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Bersama Tanpa Prasangka dan Curiga

Survei acap dilakukan oleh berbagai lembaga survei, lazimnya mempersepsikan  harapan terbesar mereka terhadap para pemimpin negeri ini adalah kemampuan untuk membangun ekonomi yang kuat dan berkeadilan. Terjaminnya demokrasi yang sehat serta kemampuan negara dalam memberikan perlindungan bagi seluruh warga negaranya.

Tentu, harapannya perlindungan di bidang sosial ekonomi, sosial politik,dan sosial budaya serta perlindungan di depan hukum yang berkeadilan.

Bicara keadilan sosial hendaknya diartikan dengan sikap untuk memperlakukan sama terhadap hal-hal yang sama dan memperlakukan berbeda terhadap hal-hal yang memang berbeda. Sebab, jika terhadap hal-hal yang berbeda diperlakukan sama justru akan menjadi tidak adil.

Soal perlindungan bagi setiap warga negara menuju terciptanya keadilan dan kemakmuran, kini sedang menggeliat sebagaimana aspirasi rakyat yang belakangan acap digulirkan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Mari Berbenah Diri

Aksi massa menolak program pemerintah, sebut saja MBG, bagian dari aspirasi dimaksud , tentu dengan segala dalil dan argumentasinya.Begitu pun munculnya aksi massa yang pro terhadap program tersebut, bagian dari aspirasi publik.

Pro kontra adalah dinamika demokrasi karena wujud dari perbedaan sikap dan pandangan yang berujung kepada terurainya solusi terbaik  bagi kepentingan rakyat, banga dan negara.

Itulah yang perlu disikapi dengan bijak. Jangan kemudian gerakan pro dan kontra ini lantas dibenturkan yang berpotensi menimbulkan gesekan, perselisihan hingga perpecahan.

Jika setiap aksi dibalas dengan kontra aksi, yang gerakannya kian meluas, itu fenomena yang perlu direspons dengan cepat, tepat dan bijak. Bukan sebaliknya unjuk kekuatan dengan memperbesar massa pro kontra.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menguatkan Kedaulatan dan Kemandirian

Ini bentuk demokrasi yang tidak sehat karena yang pada akhirnya merugikan rakyat, karena urgensi aspirasi, boleh jadi, sudah tertutupi unjuk kekuatan. bukan kepentingan rakyat.

Menyikapi kondisi semacam ini, diperlukan sikap responsif , utamanya dari kalangan elite politik dan pengambil kebijakan. Bergerak cepat menyikapi keadaan dengan tidak memberikan pernyataan yang kian memanaskan, tapi meredam situasi. Itulah perlu sikap bijak.

Patut diingat, para elite dan pejabat publik telah menjadi milik publik. Di setiap laku dan perkataannya terdapat harapan jutaan orang, sekaligus didengar banyak orang.

Tidak cepat dan tepat merespons keadaan, akan banyak mendapat cercaan, terlebih menyalahkan salah satu pihak yang berisiko munculnya kontra aksi. Awalya komentar, boleh jadi berakhir dengan gerakan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Tiada Jera Korupsi, Mengapa?

Ini bukan berarti menafikkan adanya perbedaan, tetapi bagaimana merawat perbedaan demi membangun persatuan.

Begitupun koreksi yang disampaikan oleh petinggi elite dan petinggi parpol  hendaknya disikapi secara bijak. Bukan beradu kritik, terlebih menang – menangan dalam menyampaikan kritik.

Seseorang dapat dikatakan bijaksana, jika selalu bertindak berdasarkan akal sehat dan logika sehingga dapat bersikap tepat dalam menghadapi setiap keadaan dan peristiwa, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Ya..! Pandai membaca keadaan sehingga mengetahui waktu yang tepat kapan harus berbicara dan kapan harus diam, menjadi salah satu ciri orang bijak. Tidak tergiur menilai orang lain meskipun tidak sesuai dengan pendapatnya. Lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi dalam mengambil keputusan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Bijak Berucap dan Bersikap

Yang dibutuhkan adalah menumbuhkan sikap saling mengoreksi , bukan ketimbang saling menyalahkan.

Negara kita yang menganut demokrasi Pancasila, senantiasa mengembangkan sikap saling mengoreksi, saling mengingatkan untuk kebaikan dan kemajuan bersama.

Budaya saling mengoreksi yang penuh etika perlu kita jaga dan rawat bersama sebagai jati diri bangsa yang sudah ada dan diterapkan sejak dulu kala oleh para leluhur kita.

Saling koreksi sangat diperlukan, lebih – lebih dalam era sekarang,di tengah beragam tantangan dan tekanan dunia yang tidak sedang baik – baik saja, yang tentunya berdampak bagi kehidupan kita semua.

Dalam kondisi seperti ini, masing – masing pihak perlu saling mengoreksi untuk perbaikan saat ini dan ke depan. Pihak yang dikoreksi terbuka menerimanya, lalu introspeksi untuk memperbaikinya, begitu pun koreksian dilakukan semata  untuk perbaikan, bukan mencari – cari kesalahan.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Taat Kontrol Diri

News Update