POSKOTA.CO.ID - “Reformasi birokrasi bukan semata mengatur, menata dan membenahi kinerja. Lebih utama menata mereka yang berada di barisan terdepan birokrasi, yaitu pejabat sipil negara, baik yang berada di kementerian, lembaga, badan atau komisi, baik di pusat maupun daerah," kata Harmoko.
Sebuah negara di mana pun berada, membutuhkan birokrasi sebagai mesin penggerak pemerintahan. Presiden-Wakil Presiden, kabinet serta kepala daerah boleh muncul silih berganti, tetapi birokrat tetaplah dalam barisan terdepan menuju tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Pemerintahan yang bersih (clean governance), bebas dari segala bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Birokrat adalah tulang punggung operasional pemerintah, baik di pusat maupun daerah yang menerjemahkan kebijakan teknis menjadi tindakan nyata. Tentu, yang nyata-nyata berpihak kepada rakyat.
Memastikan kebijakan diimplementasikan secara konsisten dan berkeadilan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta menumbuhkan kepercayaan masyarakat.
Baca Juga: Kopi Pagi: Periode Kejar Impian
Keliru menerjemahkan, bukan kepentingan rakyat yang dikedepankan, boleh jadi disingkirkan kepentingan lain, sekelompok elite.Terlebih, jika kebijakan diselewengkan, bukan kemakmuran rakyat yang didapat, melainkan kesengsaraan yang berujung jurang kesenjangan kian lebar.
Itulah sebabnya sering dikatakan birokrasi menjadi kunci bagi baik buruknya pelayanan publik, gambaran nyata hadirnya negara dalam melindungi warga negaranya.
Konon, PM Britania Raya 1940-1945, Winston Churchill pernah mengatakan lebih takut kepada birokratnya sendiri daripada Adolf Hitler. Ketika memimpin Britania, Churchill meraih kemenangan dalam Perang Dunia II hingga terpilih kembali pada periode 1951- 1955. Sedangkan Adolf Hitler adalah pemimpin Nazi dan penyulut perang dunia 1.
Soal tantangan birokrasi ke depan, disinggung Presiden Prabowo Subianto dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.
Baca Juga: Kopi Pagi: Pers Nasional, Antara Harapan dan Kenyataan
Melalui pernyataan bernada satire, Prabowo mengaku lebih takut birokrat korup daripada makhluk gaib. Lebih tepatnya, bukan rasa takut, tetapi lebih kepada mengkhawatirkan adanya birokrat korup.
