POSKOTA.CO.ID - “Hendaknya tidak terbawa arus ikut mengkritik hanya karena tak ingin disebut tidak ikut peduli, sementara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan serta merta ikutan menghujat hanya karena ingin dianggap masih bersahabat dengan mereka yang sedang menghujat, padahal belum tahu apakah orang dimaksud harus dihujat,” kata Harmoko.
Lisan bisa menggerakkan, lisan dapat menggelorakan, bisa menyatukan, tapi lisan dapat pula menghancurkan dan mendatangkan permusuhan. Tak sedikit, kawan menjadi lawan hanya karena "ucapan" yang dikeluarkan oleh "lidah yang tak bertulang" itu.
Lisan itu diibaratkan pisau yang jika salah digunakan akan melukai banyak orang
Itulah mengapa sebabnya kita diminta untuk selalu menjaga lisan, terlebih para elite politik dan pejabat publik. Salah ucap otomatis akan menjadi gunjingan publik, apalagi ucapan yang menyakiti hati rakyat.
Baca Juga: Kopi Pagi: Politik Tebar Empati
Kita paham betul, lisan bisa membuat orang bahagia dan menderita. Ucapan bisa membuat orang tertawa dan menangis, tersenyum dan manyun. Ucapan bisa membuat orang naik derajat, pangkat dan jabatan. Tapi bisa juga menjadikan seseorang turun derajat, pangkat dan bahkan kehilangan jabatan.
Tidak dapat dipungkiri ucapan seseorang ada yang dapat membuka dan menutup peluang orang lain. Tidak sedikit pula hanya karena sepotong ucapan membuat orang sakit hati yang berujung dendam sebagai embrio permusuhan dan kekacauan.
Itulah perlunya kesadaran diri untuk senantiasa merenung, menilai, mengkalkulasi untung ruginya terhadap ucapan yang akan disampaikan dan dampak yang ditimbulkan.
Jika dirasa apa yang akan dibicarakan atau diucapkan, tidak mengandung banyak manfaat, lebih baik diam mendengarkan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Peduli Nelayan
Itu pula mengapa kita perlu bijak dalam berucap, termasuk ketika mengkritisi orang lain. Jangan melontarkan ucapan yang tidak kita sukai, jika orang lain yang mengucapkannya.
