POSKOTA.CO.ID - ”Dengan bersabar sejatinya kita dituntut mengendalikan diri untuk tidak cepat menyerah terhadap keadaan.Tanpa bersabar, akan membuat seseorang cepat berputus asa sehingga takkan mampu menyelesaikan persoalan, lebih – lebih di tengah situasi yang semakin penuh dengan beragam tantangan," kata Harmoko.
Sejarah perjuangan bangsa juga mencatat negeri kita merdeka dan berdiri tegak karena para pejuang sabar menghadapi tantangan, tak kenal menyerah berjuang, tak pernah putus asa meraih impian mewujudkan Indonesia merdeka. Hasilnya telah teruji NKRI berdiri tegak hingga sekarang.
Kian tegak kokohnya NKRI juga tak lepas dari sikap toleransi, kolaborasi serta kegotongroyongan yang telah menjadi jati diri bangsa Indonesia yang sudah tertanam sejak era perjuangan hingga kini.
Ketiga sifat tadi (toleransi, kolaborasi dan gotong royong) disadari sebagai tali perekat persatuan di tengah keberagaman. Karena sikap itulah para pejuang melepaskan ego pribadi, kelompok dan latar belakang kedaerahan, keagamaan, dan kesukuan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Aktualisasi Jati Diri
Para pejuang dan pendiri bangsa menyadari begitu pentingnya sikap toleransi, tenggang rasa dan saling menghargai yang terwujud melalui aksi nyata seperti gotong royong, telah mampu menciptakan persatuan, membawa banyak manfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.
Itulah sebabnya mengembangkan sikap sikap tenggang rasa, saling menghormati serta mengembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong menjadi pedoman dalam pengamalan nilai- nilai falsafah bangsa kita, Pancasila.
Toleransi adalah sikap dasar yang harus ada dan dimiliki oleh setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat. Toleransi adalah menghargai perbedaan pendapat, menghargai tindakan orang lain, meski tak sesuai dengan kehendak dan pendirian kita.
Kemampuan mengendalikan diri, menekan kehendak pribadi demi kepentingan umum – kepentingan yang lebih luas lagi, itulah sejatinya toleransi.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menjaga Konstitusi Negara
Saat ini, di tengah kian beragamnya pendapat, argumentasi, sikap dan perbuatan akibat semakin mudahnya mengakses informasi, menuntut kita untuk semakin toleran dalam merespons situasi. Dituntut semakin mampu mengendalikan diri terhadap yang terjadi di sekeliling kita, utamanya menghargai pendapat orang lain, yang boleh jadi tak sesuai dengan sikap kita.
