PALMERAH, POSKOTA.CO.ID – Kenaikan harga BBM jenis Pertamax menjadi Rp16.200 per liter dikeluhkan sejumlah warga. Kondisi ini juga memicu lonjakan antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite pada sejumlah SPBU di Jakarta Barat.
Pantauan di SPBU Jalan Panjang, Kebon Jeruk, dan SPBU Jalan Palmerah Barat, antrean kendaraan yang mengisi Pertalite tampak mengular. Sementara itu, antrean di dispenser Pertamax relatif lebih lengang dibanding hari-hari sebelumnya.
Salah seorang pengemudi ojek online (ojol), Hendra (42), mengaku terdampak langsung oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut. Selama ini ia memang menggunakan Pertalite untuk menunjang aktivitasnya mencari penumpang di jalan.
Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Pramono Dorong Warga Beralih ke Transportasi Umum
Namun, sebelum harga Pertamax melonjak, Hendra kerap beralih menggunakan BBM nonsubsidi itu saat antrean Pertalite terlalu panjang. Langkah tersebut dilakukan agar waktu kerjanya tidak banyak terbuang.
“Sebelum harga naik, kalau antrean Pertalite panjang saya suka isi Pertamax supaya cepat. Sekarang lebih baik sabar antre daripada keluar biaya lebih besar,” ujar Hendra saat ditemui di SPBU Palmerah Barat, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, kenaikan harga BBM semakin menambah beban para pekerja sektor informal seperti pengemudi ojol. Sebab, biaya operasional kendaraan terus meningkat, sementara pendapatan harian tidak mengalami kenaikan yang signifikan.
Baca Juga: Kembali Raih Opini WTP, Bupati Karawang: Motivasi Perbaikan Kualitas Layanan
Ia mencontohkan harga oli motor yang biasa dibelinya sekitar Rp60 ribu kini mencapai lebih dari Rp90 ribu per kali penggantian.
“Baru oli saja sudah naik. Belum sparepart yang lain. Sementara penghasilan tetap segitu-gitu saja,” katanya.
Pria yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan swasta itu mengaku harus semakin cermat mengatur pengeluaran rumah tangga. Berbagai cara dilakukan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.
