“Sepertinya kebutuhan makanan pokok, beras itu terukur. Tidak fluktuatif seperti permintaan cabai, buah, sayur, telur atau pun daging di saat jelang perayaan hari besar keagamaan yang cenderung melonjak,” jelas Heri.
“Data empiris menyebutkan kenaikan harga pangan terjadi karena sejumlah faktor, di antaranya karena produksi menurun, stok menipis di saat permintaan meningkat, terganggunya jalur distribusi seperti banjir dan bencana alam. Di luar itu tidak tertutup kemungkinan adanya faktor X,” jelas mas Bro.
“Faktor X itu apa maksudnya?” tanya Yudi.
“Ya faktor di luar kelaziman peyebab kenaikan harga pangan,” kata mas Bro.
“Apa karena pengaruh geopolitik dan geoekonomi global?” tanya Yudi lagi.
“Jauh banget sampai ke sana. Nggak ada hubungannya juga dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kita ke pasar beli pangan pakai rupiah, bukan dengan dolar,” jelas Heri.
“Kembali kepada harga pangan, faktor penyebabnya sudah terdeteksi berdasarkan pengalaman berulang-ulang. Tetapi mengapa kenaikan harga masih berulang juga?” kata Yudi.
“Kenaikan berulang di saat permintaan tinggi,sementara stok berkurang. Itu biasa terjadi,” kata Heri.
“Jangan anggap hal biasa soal kenaikan harga,” kata Yudi sambil beranjak pergi meninggalkan kedua sohibnya.
