Obrolan Warteg: Jangan Anggap Biasa Kenaikan Harga

Senin 25 Mei 2026, 12:24 WIB
Ilustrasi Obrolan Warteg, Senin, 25 Mei 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Ilustrasi Obrolan Warteg, Senin, 25 Mei 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Oleh : Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID  – Sudah sepekan ini mayoritas harga pangan nasional bergerak naik, tak terkecuali di Jakarta dan sekitarnya. Kenaikan terjadi pada komoditas cabai, bawang merah, telur ayam hingga daging sapi. Bahkan, harga beras juga dilaporkan mengalami kenaikan, dari kualitas rendah hingga super.

Kenaikan cukup tinggi terjadi pada komoditas cabai, baik cabai merah besar, cabai merah keriting, cabai rawit merah dan cabai rawit hijau. Malah cabai rawit merah di DKI Jakarta, sudah tembus Rp80 ribu per kg dari sebelumnya Rp70 ribuan.

Tingginya curah hujan di daerah produsen menjadi salah satu pemicu naiknya sejumlah komoditas hortikultura di Jakarta.

“Jadi harga kelompok cabai  yang menggeliat paling tinggi ya,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Awali Puasa Dengan Hargai Perbedaan

“Ya, karena tanaman cabai itu sensitif terhadap curah hujan yang dapat menyebabkan produksi menurun akibat tanaman rusak dan cepat busuk. Menurunnya produksi di daerah produsen inilah yang menjadikan harga naik di tengah permintaan yang melonjak,” kata Yudi.

“Begitu juga tanaman padi, jika panen pada musim penghujan proses pengeringan menjadi terhambat ,” kata Heri.

“Bukankah cadangan stok beras nasional sangat melimpah, bahkan sudah ekspor. Kalaupun produksi menurun, tidak jadi masalah, stok di gudang tinggal digelontorkan guna memenuhi kebutuhan pasar,” urai mas Bro.

“Lantas kenapa harga beras ikut naik, apakah karena naiknya permintaan jelang perayaan Idul Adha, sebagaimana permintaan terhadap komoditas kelompok cabai?,” tanya Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Menyoal Tembok Ratapan Solo

“Sepertinya kebutuhan makanan pokok, beras itu terukur. Tidak fluktuatif seperti permintaan cabai, buah, sayur, telur atau pun daging di saat jelang perayaan hari besar keagamaan yang cenderung melonjak,”  jelas Heri.

“Data empiris menyebutkan kenaikan harga pangan terjadi karena sejumlah faktor, di antaranya karena produksi menurun, stok menipis di saat permintaan meningkat, terganggunya jalur distribusi seperti banjir dan bencana alam. Di luar itu tidak tertutup kemungkinan adanya faktor X,”  jelas mas Bro.

“Faktor X itu apa maksudnya?” tanya Yudi.

“Ya faktor di luar kelaziman peyebab kenaikan harga pangan,” kata mas Bro.

“Apa karena pengaruh geopolitik dan geoekonomi global?” tanya Yudi lagi.

“Jauh banget sampai ke sana. Nggak ada hubungannya juga dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kita ke pasar beli pangan pakai rupiah, bukan dengan dolar,” jelas Heri.

“Kembali kepada harga pangan, faktor penyebabnya sudah terdeteksi berdasarkan pengalaman berulang-ulang. Tetapi mengapa kenaikan harga masih berulang juga?” kata Yudi.

“Kenaikan berulang di saat permintaan tinggi,sementara stok berkurang. Itu biasa terjadi,” kata Heri.

“Jangan anggap hal biasa soal kenaikan harga,” kata Yudi sambil beranjak pergi meninggalkan kedua sohibnya.


Berita Terkait


News Update