KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Menjelang matahari terbenam, suasana di Sunyi Coffee, terasa hangat dengan cahaya matahari yang menembus kaca jendela. Aktivitas berjalan tanpa suara, hanya terdengar samar suara mesin kopi yang sesekali bekerja. Sesuai namanya, sunyi bukan karena dilarang menggosip tapi menghargai para pekerja kafe yang semuanya adalah penyandang disabilitas (tunarungu, tuli, dan lainnya).
Beberapa pengunjung mengantri untuk memesan segelas kopi maupun makanan, tidak ada percakapan tapi menggunakan bahasa isyarat. Berapa di antara mereka tampak memperhatikan papan panduan bahasa isyarat sebelum memesan. Interaksi yang terjadi terlihat lebih lambat, tetapi justru menghadirkan ketenangan yang jarang ditemui di kafe pada umumnya.
Di balik meja bar, para barista bergerak lincah meracik pesanan dengan komunikasi non-verbal yang terlatih. Senyum dan gestur tangan menjadi bahasa utama yang menghubungkan mereka dengan pelanggan. Tanpa percakapan riuh, suasana siang itu terasa intim dan hangat, seolah setiap orang yang datang ikut larut dalam cara baru memahami makna komunikasi.
"Saya tidak bisa bahasa isyarat (Bahasa Isyarat Indonesia atau Bisindo) tapi pake bahasa telunjuk saja, yang penting pesanan sesuai dan senang ada kafe yang memperdayakan disabilitas," ujar James Manullang, salah satu pelanggan Sunyi Coffee.
Baca Juga: Kenaikan BBM Non Subsidi Picu Kekhawatiran Harga Bahan Pokok Naik di Jakarta
Tempat nongkrong kekinian tersebut terletak di wilayah Blok M, tadi jauh dari Taman Ayodia yang sekarang berganti nama menjadi Taman Bendera Pusaka per Maret 2026 ini.
Sunyi menghadirkan konsep berbeda dibanding kafe pada umumnya. Sunyi memberdayakan penyandang disabilitas tunarungu atau tuli sebagai barista, koki, dan pelayan. Bahkan beberapa pengunjung juga merupakan penyandang disabilitas.

Begitu memasuki kafe, pengunjung tidak akan disambut dengan sapaan verbal, seperti ‘selamat pagi kakak’, ‘selamat datang kakak,’ dan lainnya. Sebagai gantinya, tersedia panduan bahasa isyarat sederhana serta instruksi pemesanan yang membantu pelanggan berinteraksi. Sepertinya, semua orang yang mampir di kafe ini sudah maklum dan justru sangat senang.
“Datang ke sini bukan hanya untuk menikmati suasana yang tenang, tapi juga sebagai bentuk dukungan saya kepada teman-teman penyandang disabilitas. Kafe seperti ini seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah," beber pria asal Kota Medan tersebut.
Baca Juga: Dampak Kenaikan BBM Non Subsidi, Ekonom Sebut Picu Inflasi hingga Tekan Daya Beli Masyarakat
James mengaku pada saat pertama kali datang ke Sunyi, merasa bingung ketika harus memesan tanpa berbicara. Namun, rasa canggung tersebut perlahan berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna. Selain itu, ia juga mengaku rasa saling menghargai dan menghormati terhadap penyandang disabilitas pun terasa.
