Bahaya Hipotermia pada Balita, Kasus Anak 1,3 Tahun di Ungaran Jadi Sorotan

Senin 13 Apr 2026, 16:18 WIB
Bahaya Hipotermia pada balita. (Sumber: Freepik)

Bahaya Hipotermia pada balita. (Sumber: Freepik)

SEMARANG, POSKOTA.CO.ID - Seorang balita berusia 1,3 tahun dilaporkan mengalami hipotermia setelah diajak orang tuanya mendaki hingga puncak Gunung Ungaran. Peristiwa ini menjadi sorotan publik usai viral di media sosial pada 13 April 2026.

Kejadian tersebut bermula ketika satu keluarga ayah, ibu, dan anak melakukan pendakian. Namun, kondisi cuaca berubah drastis saat mereka berada di atas.

Hujan deras disertai suhu dingin ekstrem menyebabkan kondisi sang balita menurun dengan cepat.

Unggahan yang beredar menyebutkan bahwa suhu dingin yang menusuk menjadi faktor utama balita tersebut mengalami hipotermia.

Baca Juga: 2 Terluka Disabet Samurai, 7 Pelajar Diamankan dan Satu Ditahan

Apa Itu Hipotermia?

Ilustrasi. Sakit. (Sumber: Pinterest/Aggash)

Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal, yakni kurang dari 36,5 derajat Celsius.

Pada kondisi tertentu, tubuh bahkan bisa kehilangan panas hingga 90 persen, terutama jika terpapar hujan dan udara dingin dalam waktu lama.

Kondisi ini tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa, tetapi juga sangat rentan dialami bayi dan balita karena sistem pengaturan suhu tubuh mereka belum sempurna.

Dampak Berbahaya Hipotermia pada Balita

Hipotermia pada anak kecil bukan sekadar kedinginan biasa. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai risiko serius, antara lain:

Baca Juga: Tragis, Ujian Praktik Sains Berujung Maut: Siswa SMP di Riau Tewas

  1. Gangguan Pernapasan

Penurunan suhu tubuh dapat memengaruhi metabolisme, sehingga mengganggu mekanisme pernapasan. Tubuh akan menyesuaikan penggunaan oksigen dan produksi karbon dioksida, yang berpotensi memicu gangguan napas.

  1. Risiko Infeksi Meningkat

Saat tubuh berada dalam kondisi dingin, pembuluh darah menyempit. Hal ini membuat sistem imun melemah dan virus lebih mudah berkembang biak di dalam tubuh.

  1. Gangguan Pembekuan Darah

Hipotermia berat dapat menyebabkan disfungsi platelet (keping darah). Akibatnya, proses pembekuan darah terganggu dan meningkatkan risiko perdarahan.

  1. Kebutuhan Oksigen Meningkat

Setiap penurunan suhu tubuh sebesar 1 derajat Celsius dapat meningkatkan kebutuhan oksigen hingga 10 persen. Hal ini membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal.

Baca Juga: Berkedok Yayasan Outsourcing, Pasutri di Cikande Tipu Belasan Pencari Kerja

  1. Risiko Kematian

Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat berujung fatal. Bayi dan balita menjadi kelompok paling rentan karena daya tahan tubuh yang masih lemah.

Pentingnya Kewaspadaan Orang Tua

Kasus balita di Gunung Ungaran menjadi pengingat penting bagi orang tua untuk lebih berhati-hati dalam membawa anak ke lingkungan ekstrem, seperti pendakian gunung.

Paparan cuaca dingin, hujan, dan angin kencang dapat dengan cepat menurunkan suhu tubuh anak.

Tanpa perlindungan dan persiapan yang memadai, risiko hipotermia bisa meningkat drastis.

Hipotermia merupakan kondisi serius yang dapat mengancam nyawa, terutama pada bayi dan balita. Peristiwa yang terjadi di Gunung Ungaran menegaskan pentingnya memahami risiko lingkungan ekstrem terhadap anak.

Orang tua diimbau untuk mempertimbangkan faktor keamanan sebelum mengajak anak melakukan aktivitas di alam terbuka, khususnya di daerah bersuhu rendah.


Berita Terkait


News Update