POSKOTA.CO.ID - “Dalam membangun kemandirian, baik pangan, energi maupun air, hendaknya tertuju kepada lebih mendayagunakan potensi sumber daya lokal, baik sumber daya alam, manusia , sosial dan budaya untuk memperkuat kemandirian itu sendiri,” kata Harmoko.
Dunia sedang tidak baik-baik saja bukan sebatas retorika, terlebih fatamorgana, tetapi kian menjadi nyata adanya. Ketidakpastian geopolitik global dan berbagai tantangan semakin menjadi ancaman di depan mata.
Negara kita dan banyak negara lainya di belahan dunia tidak bisa mengelak dari ekses konflik di Timur Tengah. Perang Iran melawan AS dan Israel dampaknya sudah dirasakan dengan bertambahnya harga minyak dunia.
Harga minyak mentah jenis Brent sudah menembus angka 30 persen, sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sudah melonjak 30 persen daripada perdagangan sebelum perang meletus pada 28 Februari 2026.
Baca Juga: Kopi Pagi: Taat Kontrol Diri
Jika konflik berlanjut, tak hanya terganggunya pelayaran Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia dan keterlibatan lebih banyak negara di dalamnya, harga minyak bisa bertambah signifikan sebagaimana diperkirakan sejumlah negara produsen energi.
Negara produsen saja tertekan menyusul konflik di Timur Tengah, terlebih bagi yang mengandalkan sebagian kebutuhan bahan bakar minyak dengan mengimpor dari negara lain.
Negara lota masih memiliki ketergantungan BBM dari negara lain. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memaparkan kebutuhan, bahan bakar dalam negeri rata-rata mencapai 232.417 kilo liter (kl) per hari, hampir separuhnya dipasok dari negara lain melalui impor, termasuk jumlahnya cukup signifikan dari kawasan Timur Tengah.
Ini bisa berpotensi menimbulkan risiko terhadap stabilitas ekonomi nasional. Kita tahu jika harga minyak dunia terus bergolak, terlebih jika negara kita terpaksa melakukan penyesuaian harga, dampaknya sangat buruk. Efek domino akan terjadi mulai dari kenaikan harga barang dan jasa, melemahnya daya beli masyarakat, meningkatnya laju inflasi hingga tekanan berat kepada struktur APBN.
Baca Juga: Kopi Pagi: Tak Selamanya Diam Itu Emas
Sementara itu, kita bisa bernafas lega, semoga bisa seterusnya menyusul pernyataan sejumlah pejabat negeri yang menyebutkan Indonesia masih kuat menghadapi gejolak harga minyak dunia. Banyak alternatif mengimpor minyak dari negara di luar Timur Tengah, misalkan Amerika, Afrika, maupun Asia Pasifik.
Kerja sama ini tidak bisa menunggu waktu, mengingat eskalasi konflik kian meluas berikut dampaknya bagi perekonomian global, utamanya pasokan dan gejolak harga minyak dunia.
Kebijakan ini dalam jangka pendek dapat diterima dan harus segera dijalankan, tetapi bagaimana dengan jangka menengah dan panjang. Haruskah selalu impor minyak mentah dan hasil minyak (bahan bakar jadi) guna memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat.
Jawabnya tentu tidak. Negeri ini sejak awal didirikan oleh para pendiri negeri untuk lepas dari ketergantungan.
Itulah mengapa kemandirian menjadi urgen, berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di biang kebudayaan. Maknanya menuntut adanya kemandirian, setidaknya di ketiga sektor itu, jika ingin membangun negeri maju dan jaya. Negeri yang adil, makmur dan sejahtera. Negeri yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur.
Program kemandirian bangsa yang digelorakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Astacita, yang poinnya swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan ekonomi biru, sudah berada di jalur yang tepat menyongsong Indonesia masa depan, Indonesia Emas.
Baca Juga: Kopi Pagi: Habisi Musuh Tersembunyi
Kemandirian bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan, termasuk mandiri dalam energi. Swasembada pangan , utamanya beras sudah terwujud, malah sudah bisa ekspor ke negara lain. Ini prestasi yang patut diapresiasi.
Menyusul tentunya swasembada komoditas lainya, mengingat pangan itu bukan hanya beras, juga jagung, kedelai, umbi-umbian, sayuran dan buah-buahan.
Kini kemandirian energi harus menjadi perhatian serius, Konflik di Timur Tengah menjadi alarm bagi pemerintah bahwa kemandirian energi kian mendesak. Pemerintah hendaknya mempercepat program kemandirian energi.
Jika dalam program kemandirian energi disebutkan dicapai dalam lima tahun, kini dipercepat lagi, sebagaimana halnya mempercepat swasembada beras.
Baca Juga: Kopi Pagi: Birokrasi Melayani, Bukan Dilayani
Kemandirian energi untuk melepaskan ketergantungan impor minyak dan gas secara keseluruhan, bukan hanya negara kawasan Teluk, AS, atau kawasan Asia Pasifik.
Kunci dari strategi menuju mandiri terletak pada pengembangan dan pemanfaatan BBM yang bersumber dari energi nabati yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Diversifikasi sumber energi dari tanaman yang melimpah seperti kelapa sawit, singkong, jagung dan tebu, tak hanya mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil, di sisi lain akan membuka peluang baru bagi pengembangan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan.
Ini dapat dimaknai dalam membangun kemandirian, baik pangan, energi maupun air, hendaknya tertuju kepada lebih mendayagunakan potensi sumber daya lokal, baik sumber daya alam, manusia, sosial dan budaya untuk memperkuat kemandirian itu sendiri, seperti dikatakan Harmoko dalam kolom Kopi Pagi.
Jika kita sepakati produk lokal sebagai primadona dalam pemenuhan kebutuhan energi, maka kebijakan di bidang pertanian mestinya tertuju kepada petani petani sejati, bukan "petani berdasi”, bukan pula kepada korporasi, sebagaimana kebijakan dalam swasembada pangan.
Untuk mencapai tujuan swasembada energi, Indonesia perlu memperkuat sejumlah langkah, di antaranya terus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi energi nabati, meningkatkan infrastruktur produksi dan distribusi, tak terkecuali menciptakan kebijakan yang mendukung pengembangan industri energi nabati. Ini perlu, mengingat kemandirian energi bukan sekadar soal pasokan, tetapi soal penguasaan teknologi dan sistem pengelolaan.
Tak kalah pentingnya membangun kerja sama dan kolaborasi yang serasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk mewujudkan visi swasembada energi yang berkelanjutan. Semoga. (Azisoko)
