POSKOTA.CO.ID - Di tengah eskalasi konflik yang memasuki hari keenam, pemerintah Iran kembali menegaskan bahwa operasi balasan militernya secara eksklusif ditujukan kepada aset-aset militer Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel.
Pernyataan ini dikeluarkan untuk menepis tuduhan bahwa Iran berniat memperluas konflik ke negara-negara tetangga atau sipil.
Markas Besar Khatam al-Anbiya, pusat komando tempur terpadu Angkatan Bersenjata Iran, dalam pernyataan resmi pada Selasa, 3 Maret 2026. menyebut "rezim Zionis yang runtuh" dan "Amerika Serikat yang kriminal" tidak memiliki pilihan selain mengakui kekalahan dalam perang yang mereka paksakan terhadap Iran.
Pernyataan itu juga memperingatkan bahwa AS dan Israel, dalam upaya putus asa keluar dari kebuntuan, berpotensi menargetkan pusat diplomatik serta kepentingan negara-negara Muslim di kawasan, kemudian menyalahkan Iran sebagai biang kerok kerusuhan.
Baca Juga: Perang Iran-Israel Meletus Ancam Selat Hormuz, Harga Minyak Globak Melonjak
"Setiap upaya semacam itu bertujuan menciptakan kekacauan regional sekaligus menghindari kekalahan telak," demikian bunyi pernyataan dari markas komando yang berada di bawah Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran.
Iran menegaskan tidak memiliki permusuhan dengan negara tetangga maupun negara-negara Muslim lainnya.
Teheran tetap berkomitmen menjaga keamanan kawasan dan melindungi kepentingan umat Islam secara keseluruhan.
Gelombang Serangan Balasan Lumpuhkan Pangkalan AS di Asia Barat

Serangan balasan Iran telah berhasil melumpuhkan salah satu pangkalan udara utama AS di Bahrain, termasuk menghancurkan pusat komando penting.
Pasukan Iran terus melancarkan respons tegas terhadap agresi bersama AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa operasi ini merupakan pembelaan diri yang sah berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB.
"Iran tidak ingin meningkatkan ketegangan di kawasan, namun akan merespons secara proporsional dan tegas setiap ancaman terhadap kedaulatan serta keamanan nasionalnya," tegas Araghchi.
Baca Juga: Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran, Ini Fakta Lengkap yang Perlu Diketahui
Agresi awal dari Washington dan Tel Aviv telah menewaskan sedikitnya 787 warga Iran dalam serangan udara yang dikategorikan sebagai aksi teror.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan cepat menggunakan rudal balistik dan drone ke wilayah pendudukan Israel serta pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.
Araghchi menekankan bahwa langkah ini bagian dari hak Iran melindungi rakyatnya dan menjaga stabilitas regional, sekaligus mengingatkan dunia bahwa agresi terhadap negara Muslim akan selalu mendapat respons yang setimpal.
Awal Serangan AS-Israel ke Iran
Konflik meletus ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran pada 28 Februari 2026. Dalam 12 jam pertama, AS mengerahkan sekitar 900 rudal dari laut dan udara, sementara Israel mengerahkan 200 jet tempur untuk menjatuhkan hingga 1.200 rudal dan bom ke berbagai target di Iran.
Salah satu target utama adalah kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran.
Menurut laporan media Barat seperti The Wall Street Journal dan The Jerusalem Post, Israel memperoleh intelijen mengenai rapat penting di lokasi tersebut, sehingga 30 bom dijatuhkan langsung ke area tersebut sebagai bagian dari serangan total.
Iran Balas Cepat dengan Rudal dan Drone
Hanya 90 menit setelah serangan dimulai, Iran membalas dengan hampir 400 rudal dan 200 drone yang diarahkan ke Israel serta pangkalan AS di kawasan. Sekitar 150 rudal lainnya dipertahankan untuk pertahanan wilayah Iran sendiri.
Hingga Selasa, 3 Maret 2026, gelombang serangan bolak-balik masih berlangsung. Selain Israel, rudal dan drone Iran menyasar pangkalan AS di berbagai negara Teluk, termasuk fasilitas di bandara dan pelabuhan sipil.
Iran juga menargetkan hotel serta lokasi penampungan personel AS setelah mereka dievakuasi dari pangkalan di Bahrain hingga Yordania.
Konflik ini terus memicu kekhawatiran global atas potensi eskalasi lebih lanjut, gangguan pasokan energi, dan dampak terhadap stabilitas Timur Tengah.
