POSKOTA.CO.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak langsung terhadap jalur perdagangan energi dunia. Indonesia pun ikut merasakan imbasnya setelah dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) tertahan di perairan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling vital secara global.
Pemerintah bergerak cepat merespons situasi tersebut. Upaya diplomasi langsung dilakukan guna memastikan keselamatan awak kapal sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi nasional agar tidak terganggu di tengah situasi global yang tidak menentu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah terus mengupayakan penyelesaian melalui jalur komunikasi internasional.
Fokus utama saat ini adalah membuka akses keluar bagi kapal tanker Pertamina yang membawa minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri.
Baca Juga: Ancaman Rudal Iran Meningkat, Cristiano Ronaldo Amankan Jet Pribadinya ke Madrid
Pemerintah Tempuh Jalur Diplomasi
Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tengah mengupayakan jalur diplomasi untuk membebaskan dua kapal milik PT Pertamina International Shipping yang terjebak di perairan Selat Hormuz, kawasan yang dalam beberapa hari terakhir memanas akibat eskalasi konflik regional.
Dua kapal tersebut diketahui mengangkut minyak mentah (crude oil) yang menjadi bagian dari rantai pasok energi nasional. Situasi di jalur laut strategis itu membuat pergerakan kapal-kapal tanker terganggu, termasuk milik Indonesia.
“Kami lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa 3 Maret 2026.
Koordinasi dilakukan antara Kementerian ESDM, Kementerian Luar Negeri, serta manajemen PT Pertamina Persero untuk memastikan keselamatan awak kapal sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.
Baca Juga: Bendera Merah Iran Berkibar, Kapolri Perintahkan Densus 88 Perkuat Deteksi Dini
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Energi Dunia
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu choke point terpenting dalam perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melintas di jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Ketika ketegangan geopolitik meningkat, kawasan ini kerap menjadi titik rawan yang berdampak langsung pada harga dan distribusi energi global.
Meski demikian, Bahlil menegaskan pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi. Dalam skenario terburuk apabila kedua kapal tidak dapat segera keluar dari wilayah konflik, Indonesia telah mengamankan sumber pasokan alternatif dari wilayah lain yang tidak melewati Selat Hormuz.
“Andaikan pun itu tidak dikeluarkan, kita sudah cari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan sudah dapat. Jadi saya pikir itu tidak menjadi sesuatu problem, bukan sesuatu masalah yang sangat penting,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa pemerintah berupaya meredam kekhawatiran publik terkait potensi gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Baca Juga: Iran Terancam Absen di Piala Dunia 2026? Konflik AS-Israel Bikin Nasib Tim Melli Di Ujung Tanduk
Pemerintah Siapkan Pengalihan Impor ke Amerika Serikat
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif atas ditutupnya Selat Hormuz.
"Atas arahan bapak Presiden melihat perkembangan yang ada. Sekarang Selat Hormuz ditutup akibat perang Israel, Amerika, Iran ini dampaknya pada energi global," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers di Kementerian ESDM, Selasa 3 Maret 2026.
Ia pun memerinci, dari total impor minyak mentah RI, sekitar 20-25 persen berasal dari kawasan Timur Tengah yang distribusinya melalui Selat tersebut. Sedangkan sisanya dipasok dari sejumlah negara lain seperti Afrika, Amerika Serikat, dan Brasil.
Oleh sebab itu, guna mengantisipasi kekurangan pasokan, pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Sehingga tidak terperangkap dinamika global yang saat ini masih berlangsung.
Di tengah tensi geopolitik yang belum mereda, publik kini menantikan hasil diplomasi pemerintah agar dua kapal Pertamina dapat segera keluar dari Selat Hormuz dengan aman, sekaligus memastikan pasokan energi nasional tetap stabil dan terkendali.
