Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Pemerintah Lakukan Diplomasi dan Alihkan Impor Minyak ke AS

Rabu 04 Mar 2026, 12:30 WIB
Ilustrasi. Selat Hormuz terdampa, pemerintah Indonesia upayakan diplomasi pembebasan kapal Pertamina sekaligus mengalihkan sebagian impor minyak ke AS. (Sumber: Dok. PT Pertamina International Shipping (PIS))

Ilustrasi. Selat Hormuz terdampa, pemerintah Indonesia upayakan diplomasi pembebasan kapal Pertamina sekaligus mengalihkan sebagian impor minyak ke AS. (Sumber: Dok. PT Pertamina International Shipping (PIS))

Ketika ketegangan geopolitik meningkat, kawasan ini kerap menjadi titik rawan yang berdampak langsung pada harga dan distribusi energi global.

Meski demikian, Bahlil menegaskan pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi. Dalam skenario terburuk apabila kedua kapal tidak dapat segera keluar dari wilayah konflik, Indonesia telah mengamankan sumber pasokan alternatif dari wilayah lain yang tidak melewati Selat Hormuz.

“Andaikan pun itu tidak dikeluarkan, kita sudah cari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan sudah dapat. Jadi saya pikir itu tidak menjadi sesuatu problem, bukan sesuatu masalah yang sangat penting,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa pemerintah berupaya meredam kekhawatiran publik terkait potensi gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Baca Juga: Iran Terancam Absen di Piala Dunia 2026? Konflik AS-Israel Bikin Nasib Tim Melli Di Ujung Tanduk

Pemerintah Siapkan Pengalihan Impor ke Amerika Serikat

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif atas ditutupnya Selat Hormuz.

"Atas arahan bapak Presiden melihat perkembangan yang ada. Sekarang Selat Hormuz ditutup akibat perang Israel, Amerika, Iran ini dampaknya pada energi global," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers di Kementerian ESDM, Selasa 3 Maret 2026.

Ia pun memerinci, dari total impor minyak mentah RI, sekitar 20-25 persen berasal dari kawasan Timur Tengah yang distribusinya melalui Selat tersebut. Sedangkan sisanya dipasok dari sejumlah negara lain seperti Afrika, Amerika Serikat, dan Brasil.

Oleh sebab itu, guna mengantisipasi kekurangan pasokan, pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Sehingga tidak terperangkap dinamika global yang saat ini masih berlangsung.

Di tengah tensi geopolitik yang belum mereda, publik kini menantikan hasil diplomasi pemerintah agar dua kapal Pertamina dapat segera keluar dari Selat Hormuz dengan aman, sekaligus memastikan pasokan energi nasional tetap stabil dan terkendali.


Berita Terkait


News Update