Suasana batin cenderung stabil, tidak gelisah, serta dipenuhi rasa nyaman. Dimensi ketenangan ini menjadi salah satu makna “salam” yang disebut dalam Surah Al-Qadar.
3. Doa Mengalir dengan Lebih Mudah
Permohonan kepada Allah terasa lebih tulus dan mendalam. Untaian doa mengalir tanpa hambatan, disertai harapan dan keyakinan yang kuat.
4. Minim Gangguan Batin
Pada malam tersebut, sebagian orang merasakan berkurangnya distraksi, baik dari faktor eksternal maupun gejolak dalam diri.
Meski demikian, Ustadz Adi Hidayat mengingatkan bahwa pengalaman tersebut bersifat subjektif.
Tidak semua orang akan merasakan tanda yang sama. Karena itu, dia menegaskan, fokus utama bukanlah mengejar sensasi spiritual, melainkan menjaga konsistensi ibadah sepanjang Ramadhan, khususnya pada sepuluh malam terakhir.
Baca Juga: Kuch2Hotahu, Tahu Celup dengan Berbagai Macam Saus Cocok Buat Menu Berbuka Puasa
Apakah di Malam Lailatul Qadar Ada Hujan atau Cuaca Tertentu?
Sebagian masyarakat sendiri meyakini Malam Lailatul Qadar ditandai dengan turunnya hujan.
Hal ini merujuk pada riwayat ketika Nabi Muhammad salat dalam kondisi masjid yang beratap daun kurma, lalu keesokan paginya terlihat bekas lumpur di kening beliau.
Menurut Ustadz Adi Hidayat, peristiwa tersebut bersifat kontekstual, bukan tanda umum yang berlaku setiap tahun. Hujan bisa saja terjadi, tetapi bukan syarat mutlak.
Beberapa hadis menyebutkan, salah satu tanda yang dapat diamati adalah kondisi matahari saat terbit.
Disebutkan, matahari terbit dalam keadaan tidak menyilaukan atau tidak terlalu terik.
Meski demikian, tanda ini baru dapat diketahui setelah malam berlalu. Karena itu, menurut Ustadz Adi Hidayat, umat Islam tidak dianjurkan menunggu tanda fisik terlebih dahulu baru beribadah.
