Obrolan Warteg: Cegah Konflik di Ruang Publik

Senin 02 Mar 2026, 06:13 WIB
Ilustrasi Obrolan Warteg edisi Cegah Konflik di Ruang Publik, Senin, 2 Maret 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Ilustrasi Obrolan Warteg edisi Cegah Konflik di Ruang Publik, Senin, 2 Maret 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

POSKOTA.CO.ID  – Dalam pepatah berbahasa Jawa disebutkan: Rukun agawe santoso, crah agawe bubrah, yang artinya rukun akan menciptakan kekuatan dan kekompakan, sementara pertikaian, perselisihan atau konflik akan membawa keruntuhan.

Sementara kita tahu, perpecahan (perceraian) apa pun alasannya akan membawa kesengsaraan bukan hanya pada saat perceraian terjadi , juga untuk masa depan bagi mereka yang bercerai.

“Ibarat gelas sudah pecah berantakan, kalaupun dikembalikan seperti semula, tak bisa sama, apalagi sama persis,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

“Jadi ada cacatnya ya, meskipun sepintas terlihat , mungkin lebih bagus ketimbang bentuk semula,” kata Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Lukisan “Kuda Api “ Pak SBY Terjual Rp 6,5 Miliar

“Sepertinya begitu. Jadi yang terpenting adalah mencegah jangan sampai crah lan bubrah. Sebab, apa pun bentuknya, konflik merugikan semua pihak. Seperti yang sekarang konflik di Timur Tengah. Kian besar konflik, semakin besar dampak buruknya bagi masyarakat,” urai Heri.

“Apalagi konflik besar dan meluas yang melibatkan banyak negara. Sedikit konflik saja akan berdampak sistemik, merugikan masyarakat. Lebih dari itu pertikaian hanya meninggalkan goresan yang tak mudah terlupakan,”urai mas Bro.

“Karena itu, kita sepakat mencegah konflik, meski dengan teman sendiri, terlebih dengan orang lain” kata Heri.

“Lantas bagaimana mencegah konflik?,” tanya Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Gerak Cepat Tangani Kenaikan Harga

“Yang pertama hargai perbedaan, hargai sikap dan pendapat orang lain, hargai usulan, hargai juga hak – hak pribadi setiap orang lain. Contoh paling konkret sesama pengguna jalan, kalau tidak mau disalip, jangan pula menyalip. Jika tidak ingin diklakson, ya jangan pula mengklakson kendaraan lain. Itu makna saling menghargai sesama pengguna jalan,” jelas mas Bro.

“:Kita perlu menciptakan suasana yang adem ayem, terlebih di bulan puasa, di bulan penuh pengendalian diri,” kata Heri.

“Jangan arogan mentang – mentang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Jangan pula semena – mena kepada orang lain yang berada di bawahnya, dianggap kecil dan lemah,” ujar Yudi.

“Tak sedikit terlihat lemah karena selama ini mengalah, tetapi sejatinya memiliki kekuatan dahsyat yang tersembunyi,” kata Heri.

“Itulah perlunya menyingkirkan prasangka buruk dan saling curiga sebagai salah satu upaya mencegah pertikaian. Mencegah crah agawe bubrah. Mari kita bangun kerukunan untuk membuat kita makin kuat dan kompak, “ urai mas Bro.

“Cegah konflik di ruang publik, baik dunia maya dan nyata.. Jangan termakan berita hoaks, terlebih yang bertujuan menimbulkan kegaduhan dan perseteruan di antara kita,” ujar Heri mengakhiri obrolan warteg hari ini. (Joko Lestari)


Berita Terkait


undefined
Nah Ini Dia

Obrolan Warteg: Puasa Politik

Rabu 25 Feb 2026, 05:00 WIB

News Update