POSKOTA.CO.ID – Kegiatan atau aktivitas politik lazim dilakukan dalam sebuah momen apa pun, termasuk di bulan suci Ramadan ini. Nama kegiatan juga disesuaikan dengan aktivitas umat yang biasa dilakukan di bulan Ramadan.
Diberitakan, DPD Partai Gerindra Jawa Timur, selama bulan Ramadan ini menggelar tadarus politik untuk Gen Z, pesertanya para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya.
Tujuannya membuka ruang komunikasi dan diskusi para kader parpol dengan Gen Z, dengan tema – tema kekinian yang menyangkut kepemudaan. Komunikasi tidak satu arah, semacam ceramah politik semata, tapi dua arah, ada interaksi.
“Nama kegiatan tersebut cukup keren juga dan sesuai momen karena tadarus rutin dilakukan para jamaah di masjid – masjid, musala dan langgar selama bulan Ramadan,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Polemik Impor Mobil dari India
“Kalau pengertian tadarus sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah membaca Alquran secara bersama – sama di bulan Ramadan. Waktunya bisa jelang buka puasa, usai salat Tarawih atau selesai salat Subuh,” kata Yudi.
“Secara umum tadarus itu kegiatan positif untuk membaca, mempelajari, memahami, menelaah (Alquran) yang dilakukan secara bersama menuju kebaikan dan kemuliaan hidup, bukan keburukan, terlebih kerusakan. Tadarus sendiri berasal dari bahasa Arab, darasa , artinya mempelajari,,” ujar mas Bro.
“Tadarus politik bisa dimaknai sebagai kegiatan untuk mempelajari, memahami dan menelaah persoalan- persoalan politik yang sedang aktual, berguna bagi bekal Gen Z. Ini positif dan bermanfaat,” jelas Heri.
“Nanti begitu memasuki Idul Fitri, biasanya akan mencuat istilah ‘Lebaran Politik’, di mana para tokoh dan petinggi parpol yang satu dengan parpol lainnya saling berkunjung, berlebaran saling memaafkan,” kata mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Membatasi Ekspansi Minimarket ke Desa
“Meski tujuannya berlebaran, tetapi karena dilakukan oleh ketua umum parpol, tentu tak lepas dari makna politik,terlebih jika selama ini terkesan saling berseteru, sinyal adanya islah. Kalau terdapat kesepakatan politik akan lebih religi, jernih dan berlandaskan hati nurani, tak semata politik,” ujar Heri.
