POSKOTA.CO.ID – Dalam pepatah berbahasa Jawa disebutkan: Rukun agawe santoso, crah agawe bubrah, yang artinya rukun akan menciptakan kekuatan dan kekompakan, sementara pertikaian, perselisihan atau konflik akan membawa keruntuhan.
Sementara kita tahu, perpecahan (perceraian) apa pun alasannya akan membawa kesengsaraan bukan hanya pada saat perceraian terjadi , juga untuk masa depan bagi mereka yang bercerai.
“Ibarat gelas sudah pecah berantakan, kalaupun dikembalikan seperti semula, tak bisa sama, apalagi sama persis,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Jadi ada cacatnya ya, meskipun sepintas terlihat , mungkin lebih bagus ketimbang bentuk semula,” kata Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Lukisan “Kuda Api “ Pak SBY Terjual Rp 6,5 Miliar
“Sepertinya begitu. Jadi yang terpenting adalah mencegah jangan sampai crah lan bubrah. Sebab, apa pun bentuknya, konflik merugikan semua pihak. Seperti yang sekarang konflik di Timur Tengah. Kian besar konflik, semakin besar dampak buruknya bagi masyarakat,” urai Heri.
“Apalagi konflik besar dan meluas yang melibatkan banyak negara. Sedikit konflik saja akan berdampak sistemik, merugikan masyarakat. Lebih dari itu pertikaian hanya meninggalkan goresan yang tak mudah terlupakan,”urai mas Bro.
“Karena itu, kita sepakat mencegah konflik, meski dengan teman sendiri, terlebih dengan orang lain” kata Heri.
“Lantas bagaimana mencegah konflik?,” tanya Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Gerak Cepat Tangani Kenaikan Harga
“Yang pertama hargai perbedaan, hargai sikap dan pendapat orang lain, hargai usulan, hargai juga hak – hak pribadi setiap orang lain. Contoh paling konkret sesama pengguna jalan, kalau tidak mau disalip, jangan pula menyalip. Jika tidak ingin diklakson, ya jangan pula mengklakson kendaraan lain. Itu makna saling menghargai sesama pengguna jalan,” jelas mas Bro.
