POSKOTA.CO.ID - Setiap bulan Ramadhan tiba, pertanyaan mengenai kapan doa buka puasa seharusnya dibaca, sebelum atau sesudah Magrib banyak dicari.
Pertanyaan ini tampak sederhana, namun nyatanya kerap memicu perdebatan Panjang di kalangan masyarakat.
Perbedaan praktik di lapangan membuat sebagian umat merasa ragu. Ada yang terbiasa membaca doa buka puasa tepat sebelum meneguk air atau menyantap kurma, sementara yang lain baru melafalkannya setelah minum atau makan.
Tak sedikit pula yang mempertanyakan keabsahan salah satu cara, bahkan menganggap praktik tertentu kurang tepat atau menyimpang dari sunnah.
Kondisi ini menunjukkan masih adanya kebingungan dalam memahami dalil serta konteks ibadah puasa secara utuh.
Menjawab kegelisahan tersebut, Ustadz Adi Hidayat memberikan penjelasan secara runtut dan mudah dipahami, tanpa menghakimi praktik yang berbeda.
Lantas, bagaimana sebenarnya penjelasan Ustadz Adi Hidayat mengenai doa buka puasa?
Apakah doa tersebut dibaca sebelum Magrib, sesudah Magrib, atau justru tepat di momen berbuka? Berikut ulasan lengkapnya yang dikutip dari kanal YouTube Seekor Lebah, pada Selasa, 24 Februari 2026.
Baca Juga: Cara Menghilangkan Bau Mulut Saat Puasa Ramadhan, Perhatikan Menu Sahur dan Kebersihan Mulut
Doa Buka Puasa Dibaca Sebelum atau Sesudah Magrib?
Menanggapi persoalan tersebut, Ustadz Adi Hidayat memberikan penjelasan komprehensif berdasarkan hadis dan kaidah keilmuan Islam.
Ia menegaskan, inti persoalan bukan terletak pada perdebatan sebelum atau sesudah, melainkan pada memanfaatkan momen berbuka sebagai waktu mustajab untuk berdoa.
Menurutnya, secara logika waktu, doa buka puasa tentu tidak dibaca sebelum waktu berbuka tiba.
Sebab, selama matahari belum terbenam, status seseorang masih dalam keadaan berpuasa. Oleh karena itu, membaca doa buka puasa jauh sebelum Magrib jelas tidak tepat.
Ustadz Adi Hidayat merujuk pada hadis riwayat at-Tirmidzi dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW membaca doa setelah berbuka dengan lafaz yang bermakna, “telah hilang rasa haus, tenggorokan telah basah, dan pahala telah ditetapkan.”
Dalam kajian tersebut, ia menjelaskan, redaksi doa menggunakan bentuk kata kerja lampau (fi’il madhi). Inilah yang kemudian melahirkan dua penafsiran di kalangan ulama.
Baca Juga: Cara Menghilangkan Bau Mulut Saat Puasa Ramadhan, Perhatikan Menu Sahur dan Kebersihan Mulut
Dua Pendapat Ulama yang Sama-Sama Memiliki Dasar
Pendapat pertama memahami teks hadis secara literal. Artinya, doa dibaca setelah minum atau makan, karena rasa haus baru benar-benar hilang setelah seseorang berbuka.
Praktik ini dilakukan dengan membaca basmalah, menyegerakan minum atau makan, lalu membaca doa buka puasa.
Sementara, pendapat kedua melihatnya dari sudut pandang balaghah (keindahan bahasa Arab). Dalam konteks ini, bentuk lampau digunakan untuk menunjukkan kepastian.
Sehingga, doa boleh dibaca tepat saat berbuka, bahkan sebelum minum, sebagai ungkapan keyakinan bahwa haus akan segera hilang dan pahala akan diberikan oleh Allah SWT.
Ustadz Adi Hidayat menekankan, kedua pendapat ini tidak perlu dipertentangkan.
Keduanya memiliki landasan ilmiah dan diamalkan oleh para ulama. Umat Islam dibolehkan memilih pendapat yang paling menenangkan hati dan sesuai dengan kebiasaan masing-masing.
Yang terpenting, kata dia, adalah tidak meninggalkan doa pada saat berbuka. Sebab, momen tersebut termasuk waktu yang sangat istimewa.
Lebih jauh, Ustadz Adi Hidayat mengingatkan, doa buka puasa bukan sekadar satu bacaan pendek.
Ia hanyalah pembuka dari rangkaian doa yang seharusnya dipanjatkan saat berbuka.
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa orang yang berpuasa saat berbuka termasuk doa yang tidak tertolak.
Karena itu, umat dianjurkan memperbanyak permohonan, mulai dari ampunan dosa, keberkahan hidup, kesehatan, hingga kebaikan bagi keluarga.
Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa, doa buka puasa boleh dibaca saat berbuka, baik sebelum maupun sesudah minum, sesuai dengan pendapat ulama yang diikuti.
Yang perlu dihindari adalah sikap saling menyalahkan dan terjebak dalam perdebatan teknis. Ramadhan sejatinya adalah momentum untuk memperbanyak ibadah dan doa.
Maka, alih-alih sibuk mempersoalkan waktu, umat Islam justru dianjurkan memaksimalkan kesempatan emas saat berbuka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon segala kebaikan.
