Hal ini dapat menyebabkan kadar gula darah turun drastis, terutama pada orang yang terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula atau karbohidrat sederhana.
Hipoglikemia dapat menimbulkan gejala pusing, lemas, sulit konsentrasi, hingga sakit kepala berdenyut.
- Kurang Tidur
Perubahan jadwal tidur selama puasa, seperti bangun lebih awal untuk sahur dan tidur lebih larut, sering kali membuat waktu istirahat berkurang.
Baca Juga: Apakah Puasa Sah Jika Lupa Niat? Begini Hukumnya Menurut Penjelasan Buya Yahya
Kurang tidur dapat memicu ketegangan saraf dan meningkatkan risiko sakit kepala tipe tegang.
- Ketegangan Otot
Postur tubuh yang kurang baik saat duduk atau bekerja, stres emosional, serta aktivitas fisik tertentu dapat membuat otot leher dan kepala menegang.
Ketegangan ini memicu nyeri yang menjalar hingga ke kepala.
- Kebiasaan Mengkretek Leher
Sebagian orang memiliki kebiasaan membunyikan leher untuk meredakan pegal. Meski terasa lega sesaat, kebiasaan ini dapat menyebabkan iritasi sendi dan otot leher yang justru memicu sakit kepala.
Selain faktor-faktor di atas, sakit kepala saat puasa juga bisa dipengaruhi perubahan cuaca, paparan sinar matahari berlebih, lingkungan bising, penggunaan bantal terlalu tinggi, hingga kebiasaan membawa tas di satu sisi bahu saja.
Tips Mengatasi Sakit Kepala Saat Puasa
Agar ibadah tetap nyaman tanpa gangguan pusing, berikut beberapa cara menghilangkan sakit kepala saat puasa yang bisa diterapkan:
- Penuhi Kebutuhan Cairan
Pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik saat sahur dan berbuka. Kebutuhan cairan minimal sekitar 2 liter atau 8 gelas per hari.
Kamu bisa menerapkan pola 2-4-2:
- 2 gelas saat berbuka
- 4 gelas antara berbuka dan sahur
- 2 gelas saat sahur
