Parkir Liar di Jakarta: Tarif Digetok Semaunya, Keamanan Tidak Terjamin

Sabtu 21 Feb 2026, 16:08 WIB
Kendaraan terpakir secara liar di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu, 21 Februari 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

Kendaraan terpakir secara liar di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu, 21 Februari 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Permasalahan parkir liar di Jakarta seolah menjadi benang kusut yang tak kunjung terurai. Dari pasar tradisional, kawasan wisata, hingga pusat perbelanjaan, parkir liar terus menjamur dan memakan ruang publik.

Ironisnya, praktik ini tetap berlangsung meski pengelola kawasan telah menyediakan lahan parkir resmi bagi pengunjung. Keberadaan parkir liar bukan hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga memicu kemacetan.

Sementara itu, tarif parkir liar ditentukan semaunya. Dalam banyak kasus, pengendara baru mengetahui tarif setelah hendak keluar dan tak jarang harus membayar berkali-kali lipat dari tarif resmi.

Baca Juga: Masalah Parkir Liar di Jakarta, Pramono Janjikan Solusi Pembukaan Lapangan Kerja

Berdasarkan pantauan Poskota di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, deretan motor terparkir rapi secara ilegal di bahu kiri jalan. Jalan pun semakin sempit dimakan kendaraan terparkir.

Sejumlah juru parkir yang tidak mengenakan seragam terlihat menawarkan jasa parkir kepada pengendara sekitar. Mereka menetapkan tarif sebesar Rp3.000 untuk satu motor per jam.

“Berapa bang parkirnya?” tanya redaksi Poskota di lokasi, Sabtu, 21 Februari 2026. “Rp3.000 aja, bang,” jawab juru parkir.

Terpaksa Pilih Parkir Ilegal

Meski parkir liar tergolong ilegal, masyarakat kerap mengambil pilihan tersebut. Iqbal, 28 tahun, salah seorang pengunjung Pasar Senen, mengaku terpaksa.

Baca Juga: Mobil Towing Polisi Parkir di Bahu Jalan Kawasan Kembangan Jakbar Ditindak Petugas

“Sebenernya sih fifty-fifty ya. Kalau lagi buru-buru, kadang terpaksa parkir liar karena enak, langsung pinggir jalan. Biasanya sih nanya dulu, kalau masih murah ya parkir,” ujar Iqbal.

Namun, ia mengaku lebih sering memilih parkir resmi, karena faktor keamanan.

“Kalau di dalam kan lebih aman. Parkir liar itu rawan, helm bisa ilang, motor juga. Biasanya tukang parkirnya juga enggak mau tanggung jawab,” ucapnya.

Iqbal berharap, penertiban parkir liar bisa dilakukan secara konsisten, terlebih selama Ramadhan 1447 Hijriah.

“Harapannya ditertibin sih, soalnya bikin macet juga, bikin kesel. Apalagi pas puasa, orang mau buru-buru buka,” katanya.

Senada, Ratih, 34 tahun, menganggap parkir liar banyak meresahkan masyarakat daripada bermanfaat.

Baca Juga: Diduga Patok Parkir Sampai Rp100 Ribu, Delapan Jukir di Tanah Abang Diringkus Polisi 

“Ditertibin aja deh, bikin macet soalnya,” ujar dia.

Ia mengaku belum pernah dipatok tarif mahal lebih dari Rp5.000 walau hanya parkir sebentar. Ratih berharap, aparat lebih aktif melakukan pengawasan.

“Mungkin Satpol PP sama Dishub bisa lebih sering muter, terutama sore hari. Biar nggak ada parkir liar, kasihan juga orang mau buka puasa jadi susah karena macet,” tuturnya. (cr-4)


Berita Terkait


News Update