“Kalau di dalam kan lebih aman. Parkir liar itu rawan, helm bisa ilang, motor juga. Biasanya tukang parkirnya juga enggak mau tanggung jawab,” ucapnya.
Iqbal berharap, penertiban parkir liar bisa dilakukan secara konsisten, terlebih selama Ramadhan 1447 Hijriah.
“Harapannya ditertibin sih, soalnya bikin macet juga, bikin kesel. Apalagi pas puasa, orang mau buru-buru buka,” katanya.
Senada, Ratih, 34 tahun, menganggap parkir liar banyak meresahkan masyarakat daripada bermanfaat.
Baca Juga: Diduga Patok Parkir Sampai Rp100 Ribu, Delapan Jukir di Tanah Abang Diringkus Polisi
“Ditertibin aja deh, bikin macet soalnya,” ujar dia.
Ia mengaku belum pernah dipatok tarif mahal lebih dari Rp5.000 walau hanya parkir sebentar. Ratih berharap, aparat lebih aktif melakukan pengawasan.
“Mungkin Satpol PP sama Dishub bisa lebih sering muter, terutama sore hari. Biar nggak ada parkir liar, kasihan juga orang mau buka puasa jadi susah karena macet,” tuturnya. (cr-4)
