JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Menjelang Ramadhan, suasana di sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Ibu Kota mulai dipadati warga yang melakukan tradisi ziarah kubur atau nyekar.
Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan menjadi momen refleksi, doa bersama keluarga, serta bentuk penghormatan kepada orang tua dan kerabat yang telah meninggal dunia.
Salah satu lokasi yang mulai ramai didatangi peziarah adalah TPU Karet Bivak, Penjernihan, Jakarta Pusat. Pantauan Poskota di lokasi pada Minggu, 15 Februari 2026, sejak pagi, warga tampak datang silih berganti membawa bunga tabur dan air mawar.
Banyak di antara mereka hadir bersama keluarga besar, membersihkan makam, lalu duduk berdoa dalam suasana hening. Di sela-sela barisan nisan, terlihat peziarah khusyuk melantunkan doa.
Baca Juga: Hukum Puasa Tanpa Salat, Apakah Sah? Ini Penjelasan Tegas Ustadz Adi Hidayat
Petugas TPU terlihat aktif membantu menunjukkan lokasi makam, sedangkan petugas kebersihan berjaga membersihkan sampah sisa bunga agar area tetap rapi.
Salah satu peziarah, Sukimin, 47 tahun datang bersama istri dan keluarganya. Ia mengaku biasanya berziarah dua kali dalam sebulan, namun menjelang Ramadan terasa lebih bermakna karena dilakukan bersama keluarga besar.
“Saya biasa ziarah sama istri sebulan dua kali. Tapi ini kebetulan bareng keluarga lengkap,” ujar Sukimin kepada Poskota, Minggu, 15 Februari 2026.
Baginya, ziarah bukan sekadar kebiasaan, melainkan pengingat hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada.
“Maknanya, buat orang yang sudah nggak ada, ‘makanan’ mereka kan doa dari kita yang masih hidup,” katanya.
Baca Juga: Tradisi Nyekar Jelang Ramadhan, Pedagang Kembang Musiman di TPU Jaha Tigaraksa Raih Berkah
Sukimin mangatakan, momentum menjelang Ramadan menjadi waktu yang tepat karena bertepatan dengan hari libur sehingga keluarga bisa berkumpul.
“Tradisinya sebelum Ramadan nyekar, mumpung libur jadi nyempetin,” ucapnya.
Hal serupa dirasakan Arief, 35 tahun yang datang bersama dua anak, istri, dan ayahnya untuk berziarah ke makam sang ibu. Ia mengatakan ziarah sudah menjadi rutinitas bulanan, namun menjelang bulan suci terasa lebih khidmat. Menurutnya, inti dari ziarah adalah mendoakan orang tua yang telah tiada.
“Ziarah ke makam ibu di sini, biasanya sebulan sekali. Kalau saya sih doain ibu aja yang sudah nggak ada. Itu penting,” kata Arief.
Ia juga menyebut tradisi nyekar menjelang Ramadan dan Lebaran sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dalam keluarganya.
“Memang tradisinya sebelum Lebaran nyekar,” ujarnya.
Baca Juga: Bolehkah Merokok Atau Vape Saat Puasa? Begini Hukumnya dalam Islam
Tradisi Nyekar Sebelum Ramadhan
Nyekar sendiri merupakan tradisi ziarah kubur yang dilakukan dengan mengunjungi makam keluarga atau kerabat yang telah meninggal dunia, biasanya dengan membersihkan makam, menabur bunga, dan memanjatkan doa.
Istilah nyekar berasal dari kata ‘sekar’ (bahasa Jawa) yang berarti bunga. Karena itu kegiatan ini identik dengan membawa bunga tabur seperti melati, mawar, atau pandan sebagai simbol penghormatan dan kasih sayang kepada almarhum.
Di Indonesia, nyekar umumnya dilakukan menjelang Ramadan, Idulfitri, hari raya keagamaan, atau pada momen tertentu sebagai bentuk mengenang, mendoakan, serta mempererat hubungan batin antara yang masih hidup dan yang telah wafat.
Sebagai informasi, TPU Karet Bivak merupakan salah satu kompleks pemakaman umum tertua dan terbesar di Jakarta yang berada di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Lahan pemakaman ini mulai digunakan pada masa kolonial Belanda, ketika wilayah Karet masih berupa area perkebunan di pinggiran Batavia.
Nama Bivak berasal dari kata Belanda “bivak/bivouac” yang berarti tempat perkemahan sementara. Pada masa kolonial, kawasan ini pernah dipakai sebagai lokasi barak atau tempat singgah tentara, sebelum kemudian dialihfungsikan menjadi area pemakaman.
Setelah Indonesia merdeka, area ini ditetapkan sebagai Tempat Pemakaman Umum (TPU) dan terus diperluas mengikuti pertumbuhan penduduk Jakarta.
Seiring waktu, TPU Karet Bivak menjadi salah satu pemakaman utama ibu kota karena lokasinya strategis di pusat kota. Kini luasnya mencapai sekitar 16 hektare dengan puluhan ribu petak makam. Pemakaman ini tidak hanya digunakan warga sekitar, tetapi juga menjadi tempat peristirahatan terakhir banyak tokoh penting nasional.
TPU Karet Bivak juga dikenal sebagai makam para tokoh karena banyak figur publik dimakamkan di sini, di antaranya:
- Mohammad Natsir - Perdana Menteri RI
- Buya Hamka - Ulama dan sastrawan
- Chairil Anwar - Penyair Angkatan ’45
- Rendra - Sastrawan dan dramawan
Karena nilai sejarah dan banyaknya tokoh nasional yang dimakamkan, TPU Karet Bivak bukan hanya tempat pemakaman, tetapi juga bagian dari jejak sejarah Jakarta tempat masyarakat berziarah sekaligus mengenang perjalanan tokoh bangsa dari masa ke masa. (cr-4)
