Nama Bivak berasal dari kata Belanda “bivak/bivouac” yang berarti tempat perkemahan sementara. Pada masa kolonial, kawasan ini pernah dipakai sebagai lokasi barak atau tempat singgah tentara, sebelum kemudian dialihfungsikan menjadi area pemakaman.
Setelah Indonesia merdeka, area ini ditetapkan sebagai Tempat Pemakaman Umum (TPU) dan terus diperluas mengikuti pertumbuhan penduduk Jakarta.
Seiring waktu, TPU Karet Bivak menjadi salah satu pemakaman utama ibu kota karena lokasinya strategis di pusat kota. Kini luasnya mencapai sekitar 16 hektare dengan puluhan ribu petak makam. Pemakaman ini tidak hanya digunakan warga sekitar, tetapi juga menjadi tempat peristirahatan terakhir banyak tokoh penting nasional.
TPU Karet Bivak juga dikenal sebagai makam para tokoh karena banyak figur publik dimakamkan di sini, di antaranya:
- Mohammad Natsir - Perdana Menteri RI
- Buya Hamka - Ulama dan sastrawan
- Chairil Anwar - Penyair Angkatan ’45
- Rendra - Sastrawan dan dramawan
Karena nilai sejarah dan banyaknya tokoh nasional yang dimakamkan, TPU Karet Bivak bukan hanya tempat pemakaman, tetapi juga bagian dari jejak sejarah Jakarta tempat masyarakat berziarah sekaligus mengenang perjalanan tokoh bangsa dari masa ke masa. (cr-4)
