Sukimin mangatakan, momentum menjelang Ramadan menjadi waktu yang tepat karena bertepatan dengan hari libur sehingga keluarga bisa berkumpul.
“Tradisinya sebelum Ramadan nyekar, mumpung libur jadi nyempetin,” ucapnya.
Hal serupa dirasakan Arief, 35 tahun yang datang bersama dua anak, istri, dan ayahnya untuk berziarah ke makam sang ibu. Ia mengatakan ziarah sudah menjadi rutinitas bulanan, namun menjelang bulan suci terasa lebih khidmat. Menurutnya, inti dari ziarah adalah mendoakan orang tua yang telah tiada.
“Ziarah ke makam ibu di sini, biasanya sebulan sekali. Kalau saya sih doain ibu aja yang sudah nggak ada. Itu penting,” kata Arief.
Ia juga menyebut tradisi nyekar menjelang Ramadan dan Lebaran sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dalam keluarganya.
“Memang tradisinya sebelum Lebaran nyekar,” ujarnya.
Baca Juga: Bolehkah Merokok Atau Vape Saat Puasa? Begini Hukumnya dalam Islam
Tradisi Nyekar Sebelum Ramadhan
Nyekar sendiri merupakan tradisi ziarah kubur yang dilakukan dengan mengunjungi makam keluarga atau kerabat yang telah meninggal dunia, biasanya dengan membersihkan makam, menabur bunga, dan memanjatkan doa.
Istilah nyekar berasal dari kata ‘sekar’ (bahasa Jawa) yang berarti bunga. Karena itu kegiatan ini identik dengan membawa bunga tabur seperti melati, mawar, atau pandan sebagai simbol penghormatan dan kasih sayang kepada almarhum.
Di Indonesia, nyekar umumnya dilakukan menjelang Ramadan, Idulfitri, hari raya keagamaan, atau pada momen tertentu sebagai bentuk mengenang, mendoakan, serta mempererat hubungan batin antara yang masih hidup dan yang telah wafat.
Sebagai informasi, TPU Karet Bivak merupakan salah satu kompleks pemakaman umum tertua dan terbesar di Jakarta yang berada di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Lahan pemakaman ini mulai digunakan pada masa kolonial Belanda, ketika wilayah Karet masih berupa area perkebunan di pinggiran Batavia.
