Deddy Mizwar Suarakan Keprihatinan atas Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT: Maafkan Ketidakberdayaan Kami

Minggu 08 Feb 2026, 14:51 WIB
Budayawan dan aktor senior Deddy Mizwar saat menghadiri sebuah acara budaya di Jakarta. Ia menyuarakan keprihatinan mendalam atas kasus bunuh diri siswa SD di Jerebuu, Ngada, NTT. (Sumber: Instagram @deddy_mizwar)

Budayawan dan aktor senior Deddy Mizwar saat menghadiri sebuah acara budaya di Jakarta. Ia menyuarakan keprihatinan mendalam atas kasus bunuh diri siswa SD di Jerebuu, Ngada, NTT. (Sumber: Instagram @deddy_mizwar)

POSKOTA.CO.ID - Sebuah tragedi memilukan kembali mengguncang dunia pendidikan dan kemanusiaan Indonesia. Seorang siswa kelas 4 sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan tindakan bunuh diri yang dipicu keputusasaan karena kemiskinan ekstrem.

Kasus ini mencuat dan menimbulkan keprihatinan luas, salah satunya dari aktor, sutradara, sekaligus budayawan nasional, Deddy Mizwar.

Melalui akun Instagram pribadinya, @deddy_mizwar, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat itu mengunggah sebuah syair panjang yang ia sebut sebagai “surat”.

Dalam unggahannya yang dikutip Sabtu, 8 Februari 2026, Deddy menuliskan:

“Di Jerebuu yang sunyi, seorang anak kelas 4 SD menggantung mimpinya di dahan cengkeh yang terlalu tua untuk menampung duka sekecil itu. YBR. Yang hanya ingin buku dan pena. Dua benda sederhana yang tak pernah dianggap penting oleh para pemilik panggung retorika.”

Tulisan tersebut menyiratkan gambaran getir tentang keterbatasan seorang anak yang hidup dalam kondisi sosial ekonomi yang sangat sulit. Dalam syair itu pula, Deddy menggambarkan perjuangan ibu korban yang disebutnya tak pernah menyerah meski hidup dalam tekanan kemiskinan.

“Ibunya menabung dengan air mata. Mengikat harapan dengan kain lusuh. Namun kemiskinan selalu lebih cepat daripada langkah seorang ibu.”

Menurut Deddy, harapan keluarga korban runtuh sebelum pagi benar-benar datang. Sang anak diduga meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya sebelum melakukan tindakan fatal tersebut.

Baca Juga: Daftar Diskon Tiket Mudik Lebaran 2026, Cek Jadwal Pemesanan di Sini

Kritik Tajam kepada Pemangku Kebijakan

Syair tersebut tidak berhenti pada ungkapan duka. Deddy mengubahnya menjadi kritik keras terhadap kebijakan negara yang dinilai belum mampu menjangkau masyarakat miskin di daerah tertinggal.

“Dengan kata-kata yang jauh lebih tajam daripada pidato mana pun yang pernah dilontarkan para pemimpin dan para penjilat yang bersorak di panggung politik yang penuh dusta!”

Menurutnya, peristiwa ini adalah ironi dari negeri yang kerap dipenuhi janji politik, namun gagal mendengar suara anak kecil yang sekadar meminta kesempatan untuk hidup lebih baik.

Ia kembali menegaskan:

“Betapa bisingnya negeri ini ketika mulut-mulut penuh janji tidak pernah mendengar anak kecil yang hanya meminta kesempatan hidup.”

Syair ini mendapat sorotan luas warganet, terutama karena Deddy selama ini dikenal sebagai figur publik yang aktif menyuarakan kritik sosial dan isu kemanusiaan.

Deddy: “Yang Mati Bukan Hanya Anak Itu, tetapi Nurani Kita”

Dalam bagian lain syairnya, Deddy menyebut bahwa tragedi tersebut seharusnya menggugah kesadaran kolektif bangsa. Ia menuliskan:

“Di bawah pohon cengkeh itu menjadi saksi bisu. Kita membaca ironi bangsa sendiri, bahwa kadang, yang mati bukan hanya seorang anak, tapi juga nurani kita.”

Baca Juga: Termasuk Narapidana Jakarta, 2.189 Napi High Risk Dipindahkan ke Nusakambangan

Ungkapan Duka Mendalam untuk Sang Ibu

Deddy menutup syairnya dengan kalimat yang penuh empati kepada ibu korban. Ia menyadari betapa besar kehilangan yang dirasakan keluarga tersebut.

“Di Jerebuu, NTT. Di mana bumi masih menyimpan jejak sepasang kaki kecil yang tak sempat menuntut hak yang tak pernah didengar. Dan langit entah bagaimana, tak lagi biru bagi seorang mama yang kehilangan dunia dalam selembar surat.”

Dengan nada penuh penyesalan, ia menambahkan:

“Maafkan kami, Nak. Maafkan ketidakberdayaan kami untuk menolongmu.”

Ungkapan tersebut menjadi bentuk refleksi Deddy bahwa masyarakat dan pemerintah masih perlu bekerja lebih keras untuk memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang terpaksa kehilangan harapan akibat kemiskinan.

Unggahannya mengundang ribuan komentar dari warganet, yang sebagian besar mendesak pemerintah agar bertindak lebih cepat dan tepat sasaran dalam menangani kemiskinan ekstrem di wilayah 3T.

Yang disebut wilayah 3T adalah, wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar di Indonesia yang ditetapkan pemerintah (berdasarkan Perpres No. 63 Tahun 2020) sebagai area dengan kualitas pembangunan, sarana, dan prasarana (pendidikan, kesehatan, infrastruktur) rendah dibandingkan wilayah lain.

Konteks Kemiskinan di Daerah 3T

Kabupaten Ngada dan beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai daerah yang masih menghadapi persoalan kemiskinan ekstrem, akses pendidikan yang terbatas, serta infrastruktur sosial yang belum memadai.

Berbagai laporan pemerintah dan lembaga riset menunjukkan bahwa anak-anak di wilayah ini kerap menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan, peralatan sekolah, dan dukungan ekonomi keluarga.

Kasus yang terjadi di Jerebuu dianggap sebagai alarm keras bahwa persoalan tersebut membutuhkan penanganan serius dan segera.

Suara Deddy Mizwar bukan hanya sekadar ekspresi duka, tetapi juga seruan moral kepada pemerintah agar memperkuat program penanggulangan kemiskinan, terutama pada keluarga dengan anak usia sekolah. Ia menegaskan bahwa tragedi tersebut tidak boleh berlalu tanpa evaluasi kebijakan.


Berita Terkait


News Update