POSKOTA.CO.ID - Penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Rabu, 18 Februari 2026, oleh Muhammadiyah bukanlah keputusan tanpa dasar.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, memaparkan penjelasan ilmiah dan metodologis terkait keputusan tersebut dalam Pengajian Tarjih pada Rabu, 28 Januari 2026.
Dilansir dari laman resmi muhammadiyah.or.id pada Jumat, 30 Januari 2026.
Penentuan tersebut menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah pendekatan penanggalan Islam yang menekankan keseragaman tanggal secara global.
Baca Juga: Puasa Ayyamul Bidh Apakah Harus 3 Hari? Simak Hukum, Jadwal, dan Bacaan Niatnya
Prinsip Kesatuan Hari dan Tanggal Global

Rahmadi menjelaskan, KHGT dibangun atas prinsip one day, one date globally, yakni kesamaan hari dan tanggal di seluruh dunia.
Prinsip ini hanya bisa terwujud apabila bumi dipandang sebagai satu kesatuan matla’, tanpa pembagian zona penanggalan regional, serta tetap mengikuti garis tanggal internasional.
Menurutnya, pembagian zona justru akan menimbulkan perbedaan hari dan tanggal antarwilayah. “Wilayah barat bisa lebih dulu masuk tanggal baru, sementara kawasan timur belum,” ujarnya.
Hisab Jadi Dasar, Rukyah Bersifat Konfirmatif
Dalam konteks metodologi, Rahmadi menegaskan bahwa penyusunan kalender jangka panjang hanya memungkinkan melalui hisab atau perhitungan astronomi.
Baca Juga: Kapan Libur Puasa Ramadan 2026? Ini Jadwal Libur Sekolah dan Tanggal Merahnya
Sementara rukyah berfungsi sebagai verifikasi jangka pendek dan tidak dapat dijadikan dasar penyusunan kalender tahunan.
