Menurutnya, puasa-puasa tersebut secara konsep bahkan menyerupai pola intermittent fasting, namun memiliki nilai ibadah yang jauh lebih besar.
Puasa Daud, misalnya, dilakukan dengan pola sehari puasa dan sehari berbuka. Secara pola makan, ini mirip dengan konsep alternating fasting yang populer di dunia kesehatan.
Bedanya, puasa Daud dijalankan dengan niat ibadah dan penuh nuansa keimanan.
“Di sini ada perintah, ada ketaatan, dan ada niat karena Allah. Itu yang membuatnya sangat berbeda,” jelas dr Zaidul.
5. Ibadah Bukan Sekadar Soal Sehat
Di akhir penjelasannya, dr Zaidul kembali menegaskan bahwa seluruh ibadah dalam Islam, termasuk puasa, tidak ditujukan semata-mata untuk kesehatan jasmani. Sehat memang penting, namun bukan tujuan utama ibadah.
“Puasa itu bukan kita lakukan supaya sehat, tapi karena Allah memerintahkan. Dan Rasulullah mencontohkannya,” tutupnya.
Dengan demikian, meski intermittent fasting dan puasa Ramadhan tampak serupa dari sisi teknis, keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam niat, tujuan, dan nilai spiritual.
