Tidak ada unsur ibadah di dalamnya. Sementara itu, puasa Ramadhan dijalankan dengan niat karena Allah SWT, sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan seorang hamba kepada Tuhannya.
“Kalau ditanya sama atau tidak, maka jawabannya jelas tidak sama,” tegas dr Zaidul.
2. Durasi Puasa yang Sekilas Terlihat Mirip
Secara teknis, puasa Ramadhan memang memiliki kemiripan dengan pola intermittent fasting 16:8, yakni sekitar 16 jam menahan makan dan minum, lalu 8 jam waktu berbuka.
Bahkan, dalam praktik intermittent fasting terdapat berbagai variasi lain seperti 20 jam puasa dengan 4 jam makan, hingga pola ekstrem lainnya.
Namun, dr Zaidul menilai, kesamaan durasi tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk menyamakan keduanya.
Dia menekankan, puasa Ramadhan memiliki dimensi spiritual yang tidak dapat diukur hanya dengan pendekatan medis atau logika kesehatan semata.
“Kita tidak pernah benar-benar tahu apa saja yang terjadi di dalam tubuh saat seseorang berpuasa karena Allah. Ada keberkahan yang tidak bisa dihitung secara ilmiah,” ujarnya.
3. Keberkahan Puasa Ramadhan Melampaui Manfaat Fisik
Lebih lanjut, dr Zaidul menjelaskan bahwa meski puasa Ramadhan terbukti membawa banyak manfaat kesehatan, hal tersebut bukanlah tujuan utama.
Puasa dijalankan bukan untuk mengejar sehat, langsing, atau awet muda, melainkan untuk melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Manfaat kesehatan yang dirasakan hanyalah bonus dari ketaatan tersebut. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada logika menyamakan puasa Ramadhan dengan metode diet modern.
4. Puasa Sunnah Lebih Utama Dibanding Tren Diet
Alih-alih fokus pada intermittent fasting, dr Zaidul justru menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, hingga puasa Daud.
