Ancaman Blokade Selat Hormuz: Ekonomi Global Terancam Gegara Penolakan Iran

Rabu 11 Mar 2026, 19:29 WIB
Ancaman blokade Selat Hormuz: ekonomi global terancam gegara penolakan Iran. (Sumber: X/@SprinterPress)

Ancaman blokade Selat Hormuz: ekonomi global terancam gegara penolakan Iran. (Sumber: X/@SprinterPress)

POSKOTA.CO.ID - Harapan Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur perundingan dengan Iran pupus di tengah bulan puasa Ramadan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menyatakan bahwa dialog dengan Washington tidak lagi menjadi opsi, menyusul serangkaian serangan militer AS yang dianggap sebagai pengkhianatan berulang.

Dalam wawancara eksklusif dengan PBS News pada 10 Maret 2026, Araghchi menekankan pengalaman pahit Iran selama negosiasi sebelumnya.

Meski kemajuan tercapai dalam pembicaraan nuklir baru-baru ini, AS tetap melancarkan serangan. "Kami siap melanjutkan serangan rudal selama diperlukan.

Baca Juga: Iran Darurat BBM: Kuota Dipangkas Jadi 20 Liter di Teheran Usai Serangan AS-Israel Hancurkan Depot Minyak

Berbicara dengan Amerika tidak lagi ada dalam agenda kami," ujar Araghchi dengan tegas.

Sentimen Religius Menguat: "Selama Ramadan, Kami Tak Bicara dengan Setan"

Ilustrasi. Sentimen religius menguat. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

Sikap keras pemerintah Iran mendapat dukungan masif dari masyarakat. Di media sosial dan jalanan Teheran, narasi perlawanan bercampur nuansa religius semakin kuat menjelang puncak Ramadan.

Frasa "Selama bulan Ramadan, kami tidak berbicara dengan setan" menjadi viral di berbagai platform digital Iran, mencerminkan penolakan total terhadap diplomasi dengan AS yang dianggap sebagai agresor.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, juga menegaskan posisi serupa melalui akun X-nya. Ia menolak gencatan senjata atau negosiasi, menyatakan bahwa agresor hanya memahami bahasa kekuatan.

"Kami tidak mencari gencatan senjata. Agresor harus dipukul agar belajar. Siklus perang-negosiasi hanya memperkuat dominasi mereka," tulis Qalibaf.

Baca Juga: Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Ini Profil dan Jejak 36 Tahun Kepemimpinannya di Iran

Ancaman Balasan Trump: "Dua Puluh Kali Lebih Keras"


Berita Terkait


News Update