Banjir Rawa Buaya Rendam Permukiman, Ratusan Warga Mengungsi di Masjid

Sabtu 24 Jan 2026, 15:12 WIB
Kondisi warga RW 01 Kelurahan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, yang mengungsi di Masjid Jami Baitul Rahman, Sabtu, 24 Januari 2026. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

Kondisi warga RW 01 Kelurahan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, yang mengungsi di Masjid Jami Baitul Rahman, Sabtu, 24 Januari 2026. (Sumber: Poskota/Pandi Ramedhan)

CENGKARENG, POSKOTA.CO.ID – Murni Rahayu, 32 tahun, bersama anaknya yang masih balita sudah satu malam mengungsi di Masjid Jami Baitul Rahman RW 01 Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.

Hingga Sabtu, 24 Januari 2026, rumahnya di RT 09 RW 01 masih tergenang banjir dengan ketinggian air mencapai selutut orang dewasa.

“Kalau saya ngungsi sudah dari hari Jumat pagi, airnya waktu itu tinggi, terus ada anak kecil juga makanya milih ngungsi,” kata Murni saat ditemui di lokasi pengungsian.

Ia menyebut banjir mulai merendam permukiman sejak Kamis, 22 Januari 2026 sore, setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.

“Hari Kamis saya masih tidur di rumah, kondisinya tapi memang udah banjir. Nah pas Jumat pagi ternyata air malah makin tinggi jadi terpaksa ke sini buat ngungsi,” ucapnya.

Baca Juga: 86 RT dan 8 Ruas Jalan di Jakarta Masih Tergenang Banjir

Di lokasi pengungsian, warga terdampak banjir tidur beralaskan tikar masjid. Ratusan warga RW 01 Kelurahan Rawa Buaya mengungsi di Masjid Jami Baitul Rahman.

Murni mengaku tidak membawa banyak barang saat mengungsi. Ia memprioritaskan kebutuhan untuk dirinya dan anaknya.

“Kalau saya bawa sarung sendiri, terus peralatan bayi semua dibawa, biar kalau malam enggak kedinginan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan sejumlah kebutuhan mendesak di lokasi pengungsian.

“Yang dibutuhkan ya itu, selimut, obat-obatan. Kalau makanan siap saji mah ada ya di sini, kebutuhan buat ibu-ibu lah yang belum ada. Sama buat bersih-bersih rumah, karbol,” tambah Murni.

Menurutnya, selimut dan obat-obatan sangat dibutuhkan agar warga terhindar dari penyakit, terutama saat suhu udara malam hari terasa dingin.

“Selimut kalau buat tidur, kalau malam kan dingin banget. Kalau saya bawa sarung dari rumah,” tuturnya.

Pengungsi lain, Muriani, 52 tahun, mengaku sudah dua malam menginap di masjid. Ia mulai mengungsi sejak Kamis, 22 Januari 2026, setelah rumahnya terendam banjir.

“Airnya kalau di jalan udah sepinggang, terus masuk rumah sampai sepaha saya,” kata Muriani.

Ia mengatakan, warga sempat bertahan di rumah dengan mengamankan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi.

“Barang-barang semua juga udah dinaikin ke meja, warga kan pada bikin begituan buat naro barang. Memang disiapin kalau buat banjir,” ungkapnya.

Namun, karena ketinggian air terus bertambah, ia memilih mengungsi.

“Banjirnya udah tinggi, mau bertahan di rumah juga bingung, terpaksa mengungsi aja di sini,” ucapnya.

Warga RW 01 Kelurahan Rawa Buaya menyebut banjir kerap terjadi saat hujan deras dengan intensitas tinggi. Hal ini juga disampaikan pengungsi lain, Leni Desi, 48 tahun.

“Karena hujannya kemarin kan hujan mulu enggak berhenti-henti. Terus mungkin salurannya enggak jalan, mungkin mampet apa gimana, akhirnya jadi banjir,” kata Leni.

Di lokasi pengungsian tercatat sebanyak 51 kepala keluarga mengungsi, terdiri dari 37 balita laki-laki dan perempuan, 11 lanjut usia, serta 139 orang dewasa.

Sementara pantauan Poskota di lokasi menunjukkan sejumlah rumah warga, khususnya di RT 09, masih terendam banjir dengan ketinggian air mencapai selutut orang dewasa.


Berita Terkait


News Update