Menurutnya, selimut dan obat-obatan sangat dibutuhkan agar warga terhindar dari penyakit, terutama saat suhu udara malam hari terasa dingin.
“Selimut kalau buat tidur, kalau malam kan dingin banget. Kalau saya bawa sarung dari rumah,” tuturnya.
Pengungsi lain, Muriani, 52 tahun, mengaku sudah dua malam menginap di masjid. Ia mulai mengungsi sejak Kamis, 22 Januari 2026, setelah rumahnya terendam banjir.
“Airnya kalau di jalan udah sepinggang, terus masuk rumah sampai sepaha saya,” kata Muriani.
Ia mengatakan, warga sempat bertahan di rumah dengan mengamankan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi.
“Barang-barang semua juga udah dinaikin ke meja, warga kan pada bikin begituan buat naro barang. Memang disiapin kalau buat banjir,” ungkapnya.
Namun, karena ketinggian air terus bertambah, ia memilih mengungsi.
“Banjirnya udah tinggi, mau bertahan di rumah juga bingung, terpaksa mengungsi aja di sini,” ucapnya.
Warga RW 01 Kelurahan Rawa Buaya menyebut banjir kerap terjadi saat hujan deras dengan intensitas tinggi. Hal ini juga disampaikan pengungsi lain, Leni Desi, 48 tahun.
“Karena hujannya kemarin kan hujan mulu enggak berhenti-henti. Terus mungkin salurannya enggak jalan, mungkin mampet apa gimana, akhirnya jadi banjir,” kata Leni.
Di lokasi pengungsian tercatat sebanyak 51 kepala keluarga mengungsi, terdiri dari 37 balita laki-laki dan perempuan, 11 lanjut usia, serta 139 orang dewasa.
Sementara pantauan Poskota di lokasi menunjukkan sejumlah rumah warga, khususnya di RT 09, masih terendam banjir dengan ketinggian air mencapai selutut orang dewasa.
