Tentu, mitos tersebut ikut melegalkan dan melanggengkan kolonialisme purba. Dengan mitos dan stereotip yang buruk rupa, para penjajah merasa berhak mengatur, mengontrol, dan menjajah sepuas-puasnya sampai sehancur-hancurnya.
Kita sadar bahwa kehancuran peradaban karena bencana alam memakan satu sampai lima generasi (1-5). Sedang kehancuran peradaban karena konflik internal atau paregreg memakan lima sampai sepuluh (5-10). Memuncaki dari yang dua, kehancuran peradaban karena penjajahan memakan sepuluh sampai lima belas generasi (10-15).
Kita hancur karena tiga hal sekaligus: bencana alam, konflik internal (paregreg) dan penjajahan. Ini problem besar yang kita alami. Maha dahsyat kerusakannya.
Oleh karena itu, untuk mengembalikan kejayaannya, kita butuh kejeniusan semesta berkelas jagad dewa batara dan tentu restu alam raya.
Kejeniusan ini cirinya lima: 1)Kemampuan menyelamatkan Indonesia dari elite busuk (asong); 2)Kemampuan menyelamatkan Indonesia dari konglomerasi busuk (aseng); 3)Kemampuan menyelamatkan Indonesia dari penjajah busuk (asing); 4)Kemampuan mengembalikan martabat Indonesia di percaturan dunia; 5)Kemampuan memastikan tertradisinya kurikulum Pancasila di semua lini.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Ekonomi Minus Kemakmuran
Lima ciri jenius ini yang harus kita temukan kini demi janji proklamasi. Tanpanya, ekopol kita hidup segan mati tak berani.
