Selain meningkatkan estetika dan kenyamanan, Yayat menilai hilangnya median jalan akibat pembongkaran tiang monorel berpotensi menambah kapasitas jalan dan melancarkan arus lalu lintas. Namun, ia menegaskan keberhasilan penataan Rasuna Said harus menjadi contoh bagi lokasi lain.
Baca Juga: Pemprov DKI Siapkan Rp100 Miliar untuk Bongkar 98 Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said
“Tantangannya bagi Pemprov DKI adalah bagaimana keberhasilan di Rasuna Said ini bisa menjadi contoh penataan di ruas jalan lain, seperti Jalan Asia Afrika atau kawasan dekat Lapangan Tembak,” ujarnya.
Lebih jauh, Yayat menegaskan kegagalan proyek monorel Jakarta harus menjadi pembelajaran penting dalam pembangunan infrastruktur perkotaan, khususnya transportasi massal berbasis rel.
“Pembelajaran yang kita dapatkan adalah ketika membangun konsep transportasi perkotaan, jangan tergesa-gesa. Kajian transportasi, pengembangan kawasan, kelembagaan, pembiayaan, hingga regulasinya harus matang. Kalau tidak, infrastruktur itu bisa berubah jadi monumen kegagalan,” kata Yayat.
Ia menjelaskan, proyek monorel pada masa lalu juga terkendala aturan karena angkutan berbasis rel masih menjadi kewenangan pemerintah pusat. Kini, melalui revisi Undang-Undang Perkeretaapian, pemerintah daerah memiliki kewenangan lebih luas.
“Sekarang aturannya sudah berubah, pemerintah daerah bisa mengelola angkutan rel. Tapi pengalaman monorel ini harus jadi pelajaran agar ke depan lebih matang dari sisi operasional, bisnis, pengembangan kawasan, dan keberlanjutannya,” ungkap dia.
Di sisi lain, Yayat mengingatkan proses pembongkaran hampir pasti menimbulkan dampak kemacetan. Karena itu, Pemprov DKI diminta menyiapkan perhitungan teknis yang matang.
“Pembongkaran pasti menimbulkan kemacetan. Kita sudah belajar dari banyak kasus penggalian dan pembongkaran jalan di Jakarta. Jangan sampai kejadian seperti di Jalan TB Simatupang terulang di Rasuna Said,” ucap dia.
Baca Juga: Pembongkaran Tiang Monorel Rasuna Said Dipastikan Pekan Depan
Ia juga menekankan pentingnya menyatukan pembongkaran dengan penataan jalan dan median secara bersamaan agar dampak kemacetan tidak berlipat ganda.
“Dengan anggaran Rp100 miliar itu, jangan hanya membongkar tiang monorel. Harus sekaligus penataan median dan koridor jalannya. Kalau hanya dibongkar, kita rugi karena macetnya lebih parah lagi. Lebih baik sekalian macet, tapi dua pekerjaan selesai,” ujar Yayat.
