Namun, bagi elite Indonesia, perubahan alam itu bukan pertanda yang harus disadari. Justru, mereka menumpuk berjilid keruntuhan batin, keculasan mental dan kelicikan karakter. Singkatnya, mereka yang dahulu hidup dalam disiplin dan kesadaran nasionalisme kini tenggelam dalam keserakahan epistemik.
Narkoba, suap dan arak beredar tanpa batas. Pinjol merajalela. Judol jadi kebanggaan. Warganya, dimabukkan oleh kemakmuran dan kemenangan lama, lalu kehilangan rasa hormat. Orang tua, guru, dan para idealis dihina. Hukum dipermainkan oleh penegak hukum, aturan dilanggar, undang-undang hanya jerat untuk kaum miskin dan lemah.
Spiritualisme dan perlindungan ilahi yang selama ini menaungi, semua perlahan hilang. Dengan jelas, cakrawala tak terlihat tenang dan "adem" sebab yang ada hanya takdir penuh kesedihan dan kepariaan.
Indonesia kini telah kehilangan jiwanya karena warga negaranya tidak lagi mengenal diri sendiri. Mereka terlalu lama memuja ego dan kenikmatan duniawi yang semu serta profan.
Akibatnya, hukum Tuhan kini tak lagi ditakuti. Nasihat dianggap gangguan. Seolah akal sehat mereka telah tertutup oleh kekuatan yang tak terlihat. Dimakan jin dan syaitan.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Kutukan Kapitalisme
Tentu ini bukan hukuman yang datang tiba-tiba. Sebab musababnya telah lama ditanam dan disemai. Maka, kehancuran ini tidak datang dari luar semata, melainkan lahir dari dalam.
Ujungnya, potret kemiskinan, takdir pengangguran, dan kesenjangan merebak di seluruh nusantara. Perselisihan kecil berubah menjadi perkelahian besar. Pasar, jalan, bahkan tempat ibadah menjadi arena KKN. Warga negara yang dahulu berdiri bahu-membahu bergotong royong, kini saling gotong nyolong.
Pada awal 2026, kisah sukses memenjarakan para koruptor yang tumbuh dari kemarahan mahasiswa, kini menjadi senjata bagi kehancuran yang akan mereka ciptakan sendiri. Kisah ajaib mengamandemen konstitusi, berubah jadi mesin perusak tata negara.
Indonesia malas belajar. Pola lama terus direplikasi: KKN disuburkan, oligarki busuk dilindungi kekuasaan. Tentu, KKN dan oligarki Indonesia bukan penyakit baru, melainkan warisan panjang sejak kolonial yang (sayangnya) menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
