POSKOTA.CO.ID - Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menyatakan sikap tegas terhadap aksi kekerasan ekstrem yang terjadi dalam pertandingan Liga 4 Jawa Timur.
Insiden tendangan brutal bergaya "kungfu" yang dilakukan pemain PS Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar, terhadap Firman Nugraha dari Perseta 1970 Tulungagung, mendapat kecaman keras karena membahayakan keselamatan pemain dan melanggar prinsip fair play.
Kronologi Kejadian
Dalam pantauan redaksi Poskota, video yang beredar luas di media sosial sudah menjadi bukti nyata aksi kekerasan itu terjadi, salah satu contohnya ada pada akun TikTok amadkhasan78.
Peristiwa nahas itu berlangsung pada laga babak 32 besar Grup CC di Stadion Gelora Bangkalan, Madura, pada Senin, 5 Januari 2026.
Baca Juga: Jadwal BRI Super League Hari Ini: Persija dan Borneo Incar Kemenangan, Posisi Persib Terancam
Saat timnya tertinggal, Hilmi melayangkan tendangan keras tepat ke dada Firman saat berebut bola, menyebabkan korban langsung ambruk kesakitan dan harus ditandu keluar lapangan untuk mendapat perawatan medis.
Wasit langsung mengganjar Hilmi kartu merah, sementara klub Putra Jaya segera memecatnya sebagai respons atas viralnya video insiden tersebut.
PSSI Kecam Aksi Tendangan Brutal
Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, Umar Husin, menegaskan bahwa tindakan semacam ini tidak dapat ditoleransi dan merupakan pelanggaran berat yang diatur dalam Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) serta Kode Disiplin PSSI.
"Keselamatan atlet adalah prioritas utama, bukan hanya di sepak bola tapi semua cabang olahraga. Pertandingan bisa ditunda atau bahkan dibatalkan jika membahayakan nyawa pemain," kata Umar dalam pernyataan resminya Selasa, 6 Januari 2026.
Baca Juga: Persib Bandung Ogah Lepas Federico Barba, Tawaran Klub Juru Kunci Liga Italia Ditolak Mentah-Mentah
Umar menambahkan bahwa penegakan aturan harus dilakukan secara konsisten untuk mencegah pengulangan aksi brutal. Sanksi bisa bertingkat, mulai dari teguran dan denda hingga hukuman jangka panjang.
