Penetapan ini didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal, yang menjadi pedoman utama Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Tahun 2026 menjadi momen penting karena Muhammadiyah mulai menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Sistem kalender ini dirancang untuk menciptakan keseragaman penanggalan Hijriah secara internasional, sehingga awal bulan seperti Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dapat dimulai secara bersamaan oleh umat Islam di berbagai negara.
Berbeda dengan Muhammadiyah, pemerintah Indonesia belum menetapkan secara resmi awal Ramadhan 2026.
Kementerian Agama (Kemenag) akan tetap menggelar sidang isbat untuk menentukan awal puasa.
Sidang isbat Ramadhan 1447 Hijriah dijadwalkan berlangsung pada 29 Sya’ban 1447 H, yang secara kalender Masehi diperkirakan jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026.
Sidang tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari perwakilan ormas Islam, ahli astronomi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hingga instansi terkait lainnya.
Jika dalam sidang isbat hilal belum memenuhi kriteria yang ditetapkan pemerintah, maka awal Ramadhan versi pemerintah berpotensi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Baca Juga: Sehari, 3 Ton Timun Suri Terjual saat Ramadhan
Mengapa Penetapan Awal Ramadhan Bisa Berbeda?
Perbedaan penetapan awal Ramadhan hampir selalu menjadi topik yang menyita perhatian publik setiap tahunnya.
Fenomena ini bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar pada perbedaan metode ilmiah dan pendekatan keagamaan yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah, khususnya bulan Ramadhan.
Secara umum, terdapat dua metode utama yang digunakan untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah, yakni hisab dan rukyat.
