Terkait kondisi di Indonesia, Dicky menilai tantangan terbesar terletak pada rendahnya literasi vaksin influenza di masyarakat. Banyak warga, kata dia, baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah cukup parah.
“Di Indonesia ini tantangannya adalah kesadaran. Banyak yang datang ke rumah sakit saat kondisinya sudah berat,” ujarnya.
Ia memperkirakan pada akhir dan awal tahun, terutama di musim penghujan, potensi penyebaran Super Flu cukup besar. Bahkan, menurutnya, 80 hingga 90 persen kasus flu yang beredar saat ini berpotensi disebabkan oleh sub-clade K.
Baca Juga: Antisipasi Tawuran Berulang, Brimob Polda Metro Jaya Patroli di Wilayah Cipinang
Dicky menegaskan bahwa vaksinasi influenza sangat penting untuk mencegah keparahan, kematian, serta menjadi penghalang penularan bagi kelompok berisiko tinggi seperti penderita diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan imunitas, hingga ibu hamil.
“Vaksin itu bukan hanya melindungi diri sendiri, tapi juga menjadi barrier penularan, terutama untuk kelompok rentan,” kata Dicky.
Dicky juga menjelaskan alasan mengapa data kasus banyak didominasi oleh anak-anak dan perempuan. Menurutnya anak-anak, khususnya di bawah lima tahun dan terlebih lagi di bawah dua tahun, memang merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan karena sistem imunitasnya masih berkembang.
“Anak-anak ini imunitasnya belum matang. Ditambah lagi kalau orang tua atau pengasuhnya kurang paham, dibawa ke mana-mana, liburan, dicium orang dewasa, itu meningkatkan risiko paparan,” jelasnya.
Selain itu, kasus pada anak-anak lebih banyak terlaporkan karena orang tua cenderung segera membawa anak ke fasilitas kesehatan ketika sakit. Sementara pada orang dewasa muda, banyak yang memilih mengobati sendiri di rumah sehingga tidak tercatat dalam sistem pelaporan.
“Padahal sebetulnya kasus pada orang dewasa itu jauh lebih banyak, tapi tidak terdeteksi,” katanya.
Hal serupa juga terjadi pada perempuan. Menurut Dicky, perempuan cenderung lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya sehingga lebih cepat mencari pertolongan medis.
“Kalau laki-laki itu secara psikologis sering diam saja sampai parah. Itu sudah umum di mana-mana. Jadi yang terjaring sistem kesehatan dan pelaporan itu lebih banyak wanita dan anak-anak,” kata Dicky.
