Najwa Shihab Kritik Larangan Live TikTok Saat Demo: Apakah Demokrasi Sedang Terancam?

Jumat 29 Agu 2025, 06:59 WIB
Pemerintah Larang Live TikTok Saat Demo, Najwa Shihab Ingatkan Hak Publik untuk Dokumentasi (Sumber: Instagram/@najwashihab)

Pemerintah Larang Live TikTok Saat Demo, Najwa Shihab Ingatkan Hak Publik untuk Dokumentasi (Sumber: Instagram/@najwashihab)

Tanpa kamera publik, masyarakat berisiko hanya menerima versi tunggal dari suatu peristiwa, yang belum tentu sesuai kenyataan.

Dimensi Perlindungan Anak: Antara Kekhawatiran dan Pembatasan

Argumen utama pemerintah dan aparat terkait larangan live TikTok adalah perlindungan terhadap anak-anak. Kekhawatiran muncul karena ada indikasi sebagian pelajar ikut demo demi mengejar popularitas atau hadiah di media sosial.

Secara manusiawi, kekhawatiran ini bisa dipahami. Remaja memang cenderung mudah tergoda oleh sensasi viral. Namun, melarang live streaming bukan solusi utama.

Ada beberapa pendekatan alternatif yang lebih konstruktif:

  • Edukasi digital bagi pelajar mengenai etika dan risiko bermedia sosial.
  • Kampanye perlindungan anak yang melibatkan sekolah, orang tua, dan komunitas digital.
  • Penegakan aturan terhadap konten yang mengeksploitasi anak, tanpa mengorbankan hak publik untuk merekam.

Dengan kata lain, perlindungan anak seharusnya tidak dijadikan alasan untuk membatasi hak demokratis warga lainnya.

Demokrasi dan Hak Mengawasi Negara

Demonstrasi bukan hanya tentang siapa yang berteriak di jalan. Lebih dari itu, demo adalah tentang bagaimana negara memperlakukan warganya apakah dengan adil, terbuka, dan manusiawi.

Najwa mengingatkan, larangan live streaming justru berpotensi menyembunyikan praktik represif aparat. Tanpa rekaman publik, tindakan kekerasan bisa terjadi tanpa bukti yang cukup.

Di sinilah letak pentingnya demokrasi digital. Teknologi bukan hanya soal hiburan, tetapi juga alat partisipasi politik. Kamera warga adalah perpanjangan tangan demokrasi, memastikan negara tidak berjalan tanpa pengawasan.

Perdebatan ini menggambarkan dilema besar. Di satu sisi, ada rasa takut: takut anak-anak jadi korban, takut aksi demo berubah anarkis, takut reputasi negara tercoreng.

Namun di sisi lain, ada keberanian: keberanian warga untuk merekam, keberanian jurnalis untuk bersuara, keberanian masyarakat sipil untuk menuntut keadilan.

Dalam kehidupan sehari-hari, publik mungkin jarang berpikir soal konstitusi atau pasal-pasal hukum. Tetapi ketika kamera dilarang, orang akan bertanya: Apakah negara takut diawasi rakyatnya sendiri?

Baca Juga: Ojol Kepung Mako Brimob Kwitang, Imbas Satu Ojol Meninggal Dilindas Rantis Brimob

Larangan Live TikTok bisa Menjadi Preseden Berbahaya


Berita Terkait


News Update