Jika dilihat lebih jauh, larangan live TikTok bisa menjadi preseden berbahaya. Hari ini larangan berlaku di demo, besok mungkin bisa merembet ke liputan bencana, kasus korupsi, atau bahkan pemilu.
Namun, jika dikelola dengan bijak, teknologi bisa menjadi sarana pendidikan publik. Rekaman masyarakat tidak hanya berguna sebagai alat kritik, tetapi juga sebagai ruang belajar demokrasi:
- Masyarakat belajar tentang hak-hak sipil.
- Anak muda belajar tentang pentingnya partisipasi politik.
- Negara belajar bahwa pengawasan publik adalah bagian dari demokrasi, bukan ancaman.
Kontroversi larangan live TikTok saat demo menyingkap wajah demokrasi digital di Indonesia. Najwa Shihab telah menegaskan, kamera publik harus menjadi cermin, bukan hal yang dihindari.
Perlindungan anak memang penting, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk membatasi hak warga. Rekaman masyarakat adalah salah satu pilar transparansi, akuntabilitas, dan kebebasan berekspresi.
Sebagai bangsa yang terus belajar berdemokrasi, kita dihadapkan pada pilihan:
- Apakah kita ingin demokrasi yang transparan dengan kamera sebagai saksi,
- atau demokrasi yang tertutup dengan narasi tunggal dari penguasa?
Pada akhirnya, jawaban ada di tangan kita semua warga, jurnalis, aparat, dan negara. Karena demokrasi sejati hanya bisa tumbuh jika ada keberanian untuk dilihat, didengar, dan diawasi.