JAKARTA - Kantor pegadaian ramai didatangi oleh nasabah yang ingin menggadaikan barang karena terdesak kebutuhan ekonomi.
Berdasarkan pantauan poskota.id, kantor pegadaian unit pembantu cabang (UPC) Palmerah Utara dan kantor pegadaian Kemandoran, tampak terlihat ramai. Bahkan nasabah sampai mengatre di luar gedung kantor tersebut.
Selain menggadaikan barang, ada yang berniat memperpanjang atau menebus barang gadaian.
Salah satu nasabah bernama Sri Lestari mengaku hendak menggadaikan cincin emas miliknya. Semenjak virus corona mewabah di Indonesia, sudah dua kali Ia terpaksa menggadaikan perhiasan miliknya demi menyambung hidup.
"Sejak virus corona masuk ke sini (Indonesia), saya udah dua kali ngegadaikan barang. Kemarin awal-awal saya ngegadain kalung, sekarang cincin. Ga tau deh besok apa lagi yang bisa saya gadai," ujar Sri yang ditemui di kantor pegadaian UPC Palmerah Utara, Jakarta Barat, Selasa (5/5/2020).
Ia mengaku sejak Maret 2020, dirinya terpaksa menganggur lantaran dagangannya sepi pembeli, sehingga ia selalu merugi. Melihat tak ada harapan, Sri akhirnya pun menutup lapak nasi uduk dan lontong sayur yang sudah beberapa tahun ini Ia buka.
Kondisi keuangannya pun semakin sulit semenjak upah sang suami yang bekerja sebagai pengangkut sampah mulai seret. Pasalnya kata Sri, sang suami bukan bagian dari pekerja penanganan sarana dan prasarana umum (PPSU). Sehingga upah yang dihasilkan tidak tetap.
"Suami juga kerja sebagai tukang sampah. Tapi gajinya cuma Rp700 ribu, untuk bayar kontrakan dan listrik juga kadang ga nutup. Kita tiap hari kan juga butuh makan," kata Sri.
"Udah gitu belakangan ini suami juga ngeluh karena katanya pada susah bayar uang sampah. Jadi mau ga mau kita jual yang ada. Kalau bisa ketebus syukur, kalau ga ya mau gimana lagi," sambungnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Fifi warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Perempuan berusia 35 tahun itu datang sendirian untuk memperpanjang gadai cincin dan gelang yang digadaikan ibunya beberapa waktu lalu. Tak hanya memperpanjang saja, pasalnya Ia akan kembali menggadai dua cincin emas untuk membiayai hidup sang Ibu sehari-hari.
"Ini bukan saya yang gadai, tapi Ibu saya. Ini mau memperpanjang dan menggadaikan lagi. Semoga bisa, karena saya belum punya uang untuk menebus sedangkan sudah jatuh tempo tanggal 17 April kemarin," kata Fifi.
Menurutnya, sang Ibu lupa tanggal jatuh tempo barang yang digadaikannya tersebut. Sehingga setelah dua pekan berlalu, Ia baru datang ke kantor pegadaian untuk memperpanjang.
"Ibu saya salah liat tanggal, dikiranya 17 Mei. Pas liat di surat, taunya 17 April. Semoga masih bisa diperpanjang, kalau ga, bisa-bisa Ibu saya nangis karena perhiasannya dilelang," ungkap Fifi.
Ia menyebut, uang hasil gadai itu untuk kebutuhan sang Ibu sehari-hari. Pasalnya, dirinya saat ini juga sedang dalam kondisi perekonomian yang tidak baik. Terlebih setelah sang suami dirumahkan atau PHK.
"Ya untuk ibu saya uangnya. Saya juga lagi begini, cuma dagang baju aja di online shop. Uangnya juga ga bisa langsung cair kan. Kemarin juga jual motor dulu buat usaha baju ini, soalnya suami dirumahkan sejak dua bulan lalu," pungkasnya. (firda/tri)
