Lanjut Budi, pihaknya Jaya juga akan memperkuat kerja sama dengan pihak sekolah untuk memberikan pembinaan kepada pelajar agar terhindar dari perilaku menyimpang. Upaya pencegahan lainnya dilakukan melalui penguatan layanan call center 110 yang sepanjang 2025 menerima lebih dari 269.000 panggilan, dengan 67 persen di antaranya berupa aduan masyarakat.
"Kami juga mengapresiasi warga yang peduli dan segera melapor melalui layanan kepolisian 110 jika mengetahui potensi gangguan keamanan," ucap Budi.
Baca Juga: Antisipasi Hujan Ekstrem, Pramono Anung Minta Seluruh Stakeholder Jakarta Siap-Siap
Pencegahan Tawuran Butuh Proses Panjang
Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Haniva Hasna menilai berbagai program pencegahan tawuran perlu diarahkan untuk mengubah kebiasaan dan pola interaksi masyarakat di kawasan rawan konflik.
Di antaranya Program Kampung Redam di Manggarai, Jakarta Selatan, kegiatan Manggarai Bershalawat hingga fasilitas ring tinju di Kampung Melayu, Jakarta Timur.
"Efektivitas program ini tidak bisa dilihat secara instan, melainkan harus dipahami dari tiga dimensi utama, yaitu penyebab konflik, mekanisme penyelesaian yang ditempuh, serta tantangan dalam implementasinya," ujar Haniva.
Haniva menilai, konflik antarkelompok di kawasan seperti Manggarai tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan kekerasan yang berlangsung turun-temurun. Dalam kondisi tertentu, tawuran bahkan dipandang sebagian kelompok sebagai tradisi dan bentuk solidaritas untuk mempertahankan identitas wilayahnya.
Baca Juga: Pramono Anung Tegaskan Pembangunan Jakarta Tak Berhenti Meski Gubernur Berganti
Pemicu bentrokan juga kerap berawal dari persoalan sederhana, seperti saling senggol, petasan, hingga masalah asmara. Namun, persoalan yang lebih mendasar berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat, termasuk terbatasnya lapangan pekerjaan dan minimnya fasilitas publik di kawasan padat penduduk.
Pembangunan fasilitas olahraga seperti ring tinju dapat membuka ruang bagi anak muda untuk menyalurkan energi dan kemampuan melalui kegiatan yang lebih produktif. Dengan adanya wadah tersebut, mereka memiliki alternatif aktivitas yang dapat mengurangi keterlibatan dalam aksi kekerasan jalanan.
Namun, kata Haniva, upaya pencegahan tawuran perlu berjalan beriringan dengan pembenahan kondisi sosial masyarakat. Sebab, patroli dan pengawasan aparat memiliki keterbatasan apabila akar persoalan yang melatarbelakangi konflik tidak ikut diselesaikan.
"Termasuk kurangnya lapangan kerja, minimnya fasilitas publik, dan tekanan sosial di lingkungan padat penduduk," ucap Haniva.
